UGM: Prinsip Halal dan Aman Harus Jadi Prioritas Utama Pelaksanaan Kurban Idul Adha 1447 H
Prinsip Halal dan Aman Harus Jadi Prioritas Utama Pelaksanaan Kurban Idul Adha 1447 H

UGM: Prinsip Halal dan Aman Harus Jadi Prioritas Utama Pelaksanaan Kurban Idul Adha 1447 H

SisiIslam.Com, Yogyakarta – Pakar dan dosen Fapet UGM tekankan kurban Idul Adha 1447 H harus halal, aman, dan ihsan. Pelatihan penanganan hewan kurban digelar cegah risiko. Simak kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.


Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, para pakar peternakan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan bahwa pelaksanaan kurban tidak boleh sekadar memenuhi kewajiban ritual semata. Lebih dari itu, ibadah kurban harus mengedepankan prinsip halal dan aman bagi manusia serta ihsan terhadap hewan.

Dosen Fakultas Peternakan UGM, Cuk Tri Noviandi, menegaskan bahwa kesalahan teknis di lapangan masih sering terjadi. Mulai dari hewan yang mengalami stres sebelum disembelih, hingga proses pemotongan yang tidak sesuai standar kesehatan.

“Kurban itu bukan sekadar menyembelih, tetapi bagaimana kita memastikan hewan diperlakukan dengan baik, prosesnya aman bagi manusia, dan hasilnya layak dikonsumsi. Kondisi hewan yang stres atau penanganan yang salah dapat memengaruhi kualitas daging sekaligus berisiko bagi panitia kurban,” ujar Noviandi di Yogyakarta, Sabtu.

Pelatihan Penanganan Hewan Kurban dari Fapet UGM

Menyadari tingginya kebutuhan kurban yang tidak hanya sah secara agama tetapi juga higienis, Fakultas Peternakan UGM menggelar pelatihan khusus bagi panitia dan masyarakat umum. Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan lengkap, mulai dari fikih kurban hingga praktik penanganan hewan dan pengelolaan daging yang aman.

Baca Juga:  Rektor UIN Ar-Raniry: Permen 9 Tahun 2026 adalah Investasi Kepemimpinan Nasional untuk Generasi Digital Berkarakter

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro, menjelaskan bahwa pelatihan tidak berhenti pada teori.

“Tak sekadar teori, praktik pemotongan dan distribusi daging yang benar kami ajarkan. Mulai dari pemisahan daging dan jeroan, penggunaan sarung tangan, hingga anjuran menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti besek bambu,” kata Prof. Budi.

Menurutnya, langkah ini penting untuk mencegah kontaminasi silang dan menjaga kualitas daging kurban hingga sampai ke tangan penerima manfaat.

Risiko Penanganan Daging Tidak Higienis

Dosen Fakultas Peternakan UGM lainnya, Rio Olympias Sujarwanto, mengingatkan bahwa pengelolaan daging hewan kurban yang tidak higienis dapat menjadi sumber penularan penyakit.

“Daging itu sangat mudah terkontaminasi. Penanganan yang salah, seperti meletakkan di atas tanah atau menggunakan wadah tidak aman, bisa meningkatkan jumlah kuman secara drastis. Ini bahaya bagi kesehatan masyarakat,” tegas Rio.

Sertifikasi Kompetensi Kurbankan Jadi Target ke Depan

Lebih lanjut, Prof. Budi Guntoro berharap agar para peserta pelatihan dapat melanjutkan ke jenjang sertifikasi kompetensi. UGM selama ini telah memiliki program sertifikasi yang akan sangat berguna, terutama jika daging kurban atau olahannya kelak diperjualbelikan kepada khalayak.

“Sertifikasi ini akan diperlukan jika nantinya makanan masuk pada ranah diperjualbelikan kepada publik. Kami ingin kurban tidak hanya ibadah, tapi juga menghasilkan produk pangan yang aman dan halal secara Industrial,” pungkasnya.

Dengan adanya pelatihan dari pakar UGM ini, diharapkan pelaksanaan kurban Idul Adha 1447 H di berbagai wilayah bisa berjalan lebih profesional, sehat, dan sesuai dengan tuntunan syariat serta standar kesehatan modern. [*dik]

QS: Ali Imran (3) : 105

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ۙ

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat,

----------
Al-Qur'an lengkap