Wamenlu Anis Matta Yakin Kemerdekaan Palestina Sangat Dekat: Ini Analisis Geopolitik Terbaru
Wamenlu Anis Matta

Wamenlu Anis Matta Yakin Kemerdekaan Palestina Sangat Dekat: Ini Analisis Geopolitik Terbaru

SISIISLAM.COM, JAKARTA – Wamenlu Anis Matta optimistis kemerdekaan Palestina sangat dekat. Ia sebut perjuangan berubah jadi perang kemanusiaan global. Simak analisis lengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.


Optimisme besar disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Anis Matta, terkait masa depan kemerdekaan Palestina. Menurutnya, perjuangan rakyat Gaza dan Tepi Barat kini telah memasuki babak baru yang tidak hanya melawan penjajahan, tetapi menjadi pertarungan antara nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kemanusiaan.

Dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi swasta akhir pekan lalu, Ketua Umum Partai Gelora itu menegaskan keyakinannya bahwa kemerdekaan Palestina bukan lagi wacana jauh, melainkan proses yang sangat dekat.

“Saya adalah orang yang sangat optimistis bahwa kemerdekaan Palestina itu jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan,” ujar Anis Matta.

Genosida Gaza Buka Mata Dunia

Menurut Wamenlu Anis Matta, perubahan fundamental terjadi pasca-genosida di Gaza sejak 2023 hingga saat ini. Tragedi kemanusiaan yang menyita perhatian global itu, kata dia, telah mengubah cara pandang masyarakat internasional.

“Orang memandang bahwa yang kita saksikan ini bukan sekadar penjajahan. Ini genosida yang nyata. Karena itu, isu Palestina bukan lagi milik rakyat Palestina semata, tetapi sudah menjadi milik seluruh manusia di dunia,” tegasnya.

Baca Juga:  Pemasangan Spanduk Rising Lion Israel di RS Indonesia Gaza: Kemenlu RI Kecang Provokasi Zionis

Ia mencontohkan partisipasi aktif warga Eropa dalam misi kemanusiaan Global Flotilla dan aksi solidaritas di berbagai negara. Anis Matta menilai, Israel saat ini tidak sedang melawan rakyat Palestina, melainkan melawan masyarakat manusia secara kolektif.

Tiga Fase Perubahan Narasi Perjuangan

Anis Matta, yang telah mengikuti isu Palestina selama lebih dari 30 tahun, memetakan perubahan besar narasi perjuangan dalam tiga era:

  1. 1950-an – 1980-an: Konflik Arab-Israel.
  2. 1990-an: Isu dunia Islam melawan Zionisme.
  3. 2020-an (tiga tahun terakhir): Perjuangan kemanusiaan melawan anti-kemanusiaan.

“Spektrum keterlibatannya menjadi jauh lebih luas. Kita tidak pernah menyaksikan sebelumnya isu Palestina menjadi isu pemilu di Eropa maupun Amerika Serikat. Sekarang orang bisa naik karena Gaza, dan orang bisa turun karena Gaza,” ungkapnya.

Dukungan Rakyat Indonesia Lebih Besar dari Pemerintah

Dalam kesempatan itu, Wamenlu Anis Matta juga menyoroti tingginya solidaritas rakyat Indonesia. Menurutnya, jumlah organisasi sipil dan lembaga kemanusiaan Tanah Air yang membantu Palestina terus meningkat.

“Bahkan sebenarnya bisa kita katakan bahwa bantuan rakyat masih lebih besar daripada bantuan yang diberikan pemerintah. Ini menunjukkan bahwa sikap rakyat dan sikap pemerintah benar-benar satu napas dalam mendukung Palestina,” ujarnya.

Perubahan Geopolitik Timur Tengah Pasca-Perang Gaza

Anis Matta juga memberikan analisis geopolitik menarik mengenai perubahan sikap negara-negara Teluk. Menurutnya, serangan Israel ke sejumlah negara kawasan telah mendorong negara-negara Arab meninjau ulang doktrin keamanan mereka.

Baca Juga:  Hezbollah Bangkit dari Luka 2024: Drone FPV dan Taktik Gerilya Tantang Militer Israel

Ia mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Oman bahwa sejumlah negara Teluk mulai mempertanyakan ancaman lama dari Iran. Justru, perjuangan kemerdekaan Palestina kini menjadi katalis untuk strategic adjustment.

“Perang Palestina membuat banyak negara di kawasan melakukan strategic adjustment. Cara mereka memandang persoalan keamanan berubah secara total,” jelasnya.

Ia memperkirakan negara-negara Teluk akan membangun kerangka keamanan yang lebih inklusif, termasuk membuka ruang kerja sama dengan Iran. Di sisi lain, pengaruh ekonomi negara Teluk terhadap AS juga semakin besar, yang berpotensi mengubah dinamika perdamaian Timur Tengah.

Optimisme di Tengah Penderitaan

Meski situasi lapangan masih diwarnai kekerasan, Anis Matta tetap optimistis. Menurutnya, tidak ada kekuatan yang mampu melawan nilai-nilai kemanusiaan dalam jangka panjang.

“Ini hanya masalah waktu. Tidak akan ada yang bisa melawan kemanusiaan,” pungkasnya.

Dengan perubahan narasi global, dukungan luas rakyat Indonesia, serta pergeseran geopolitik kawasan, Wamenlu Anis Matta meyakini bahwa kemerdekaan Palestina bukan lagi mimpi, melainkan keniscayaan yang sangat dekat. [*sod]

QS: Saba (34) : 25

قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan.”

----------
Al-Qur'an lengkap