Nasib Memilukan Warga Gaza Terjebak di Tepi Barat: ‘Tak Ada Rumah Lagi’ Sejak Perang 7 Oktober
Warga Gaza Terjebak di Tepi Barat: ‘Tak Ada Rumah Lagi’

Nasib Memilukan Warga Gaza Terjebak di Tepi Barat: ‘Tak Ada Rumah Lagi’ Sejak Perang 7 Oktober

SisiIslam.com, NABLUS – Nasib warga Gaza terjebak di Tepi Barat sejak 7 Oktober. Kehilangan rumah, keluarga, dan hidup di stadion. Simak kisah haru ini dari laman Sisi Islam Media di bawah ini.


Lebih dari dua setengah tahun sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023, puluhan warga Gaza masih terdampar di Tepi Barat. Mereka kehilangan rumah, terpisah dari keluarga, dan hidup dalam keterbatasan ekstrem—di stadion, kamar ganti, hingga dapur restoran kecil.

Salah satu kisah paling mengharukan datang dari bawah tribun stadion Kota Nablus. Di bekas ruang ganti pemain, nasib warga Gaza terjebak tanpa kepastian pulang.

Hidup di Bawah Tribun, Seperti Anjing yang Dibuang

Sameer Abu Salah, 54 tahun, asal Khan Yunis, hanya empat hari bekerja di Tel Aviv sebelum perang meletus. Ia kemudian pergi ke Nablus dan tak bisa kembali ke Gaza.

“Saya dihormati sebelum perang. Tapi lihat saya sekarang—tinggal di tenda, dibuang seperti anjing,” ujarnya dengan mata sayu di ruang sempit bawah stadion Nablus.

Dua putranya tewas dalam serangan udara Israel. Kini, Abu Salah mengumpulkan barang bekas untuk menghidupi keluarganya yang masih di Gaza. Meski disebut “obsesif dengan kebersihan”, ia merapikan kardus bekas menjadi lemari dan menghias dinding dengan bendera Palestina serta potret Yasser Arafat yang ia temukan dari jalanan.

Baca Juga:  Roket Hizbullah menargetkan pasukan Israel, mencapai Haifa

“Kami di Penjara”

Warga Gaza lain, Sameh (nama samaran), datang ke Tepi Barat 10 hari sebelum perang untuk berobat anaknya. Sang anak sudah kembali ke Gaza, tapi Sameh terjebak.

“Membosankan, tapi apa daya? Kami di penjara,” katanya.

Di ruang ganti stadion, ia menggantung seprai di atas tali untuk membatasi ruang pribadi—mirip tenda-tenda besar di kamp pengungsian Gaza. “Saya ingin hidup seperti keluarga saya di sana,” ujarnya.

Semua pria yang diwawancarai AFP di stadion itu kehilangan rumah akibat serangan udara. Mereka menunjukkan video rumah mereka sebelum hancur, lalu foto puing-puing setelahnya.

Pengusaha Gaza yang Membuka Restoran Falafel di Ramallah

Nahed Al-Hilou, 43 tahun, adalah pengusaha Gaza yang kini tinggal di Ramallah. Dua hari sebelum 7 Oktober, ia keluar Gaza dengan izin bisnis untuk mencari barang impor. Restorannya di lingkungan Rimal, Gaza City, yang mempekerjakan 30 orang, kini rata dengan tanah.

Di Ramallah, ia membuka restoran falafel dan mempekerjakan sembilan orang—semuanya warga Gaza. Masakannya khas Gaza: pedas.

“Tentu Gaza lebih saya cintai. Tapi di sana, tak ada rumah lagi. Tak ada apa pun,” katanya lirih.

4.605 Warga Gaza Terjebak di Tepi Barat

Kementerian Tenaga Kerja Otoritas Palestina mencatat, hingga Maret lalu, setidaknya 4.605 warga Gaza telah mendapat bantuan tunai karena terjebak di Tepi Barat sejak 7 Oktober. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar.

Baca Juga:  Israel Hanya Izinkan Sholat Subuh di Al Aqsa, HNW: Umat Islam Harus Rapatkan Barisan!

Sebagian besar dari mereka kehilangan tempat tinggal. Menurut PBB, 81 persen bangunan di Gaza hancur selama perang. Tingkat pengangguran melonjak hingga 80 persen, dan harga barang meroket akibat pembatasan masuk truk oleh Israel.

Takut Keluar Kota, Khawatir Dikirim Kembali ke Gaza

Meski diperbolehkan meninggalkan batas kota, para pria di bawah tribun stadion Nablus masih ketakutan. Beberapa teman mereka dicegat di pos pemeriksaan tentara Israel dan dikirim paksa kembali ke Gaza yang masih dibombardir.

Israel masih menguasai sekitar setengah wilayah Gaza. Sejak gencatan senjata yang ditengahi AS pada Oktober 2025, setidaknya 846 orang tewas akibat tembakan Israel.

Satu Nasib, Berbeda Status

Shahdeh Zaarb, 45 tahun, asal Beit Lahia (kota stroberi sebelum perang), lebih beruntung. Ia memiliki residensi Tepi Barat dan kini membuka kebun di Qalqilya. Tapi sejak 2021, ia tak pernah bertemu anak-anaknya.

“Anak-anak saya di satu tempat, saya di tempat lain. Saya tidak bisa membawa mereka ke sini karena penyeberangan ditutup,” ucapnya.

Penutup: Antara Rindu dan Realitas Pahit

Nasib warga Gaza terjebak di Tepi Barat sejak 7 Oktober menjadi cermin getir bagaimana perang tak hanya menghancurkan rumah, tapi juga merenggut tempat bernaung di rantau orang.

Mereka yang tersisa di stadion, restoran kecil, dan kebun-kebun di Tepi Barat hanya bisa berdoa. Pulang ke Gaza berarti kembali ke puing. Bertahan di sini berarti hidup tanpa kepastian.

Baca Juga:  Hezbollah Bangkit dari Luka 2024: Drone FPV dan Taktik Gerilya Tantang Militer Israel

“Kami dulu hidup dengan martabat. Sekarang kami dibuang seperti anjing.” — Sameer Abu Salah, warga Gaza terjebak di Nablus.


Redaksi Sisi Islam Media mengikuti terus perkembangan kemanusiaan saudara-saudara kita di Palestina. Semoga Allah segera memberikan kelegaan dan keadilan. Aamiin. [*Izah]

QS: Saba (34) : 6

وَيَرَى الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّۙ وَيَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa (wahyu) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itulah yang benar dan memberi petunjuk (bagi manusia) kepada jalan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.

----------
Al-Qur'an lengkap