
Sejarah Masjid Agung Demak: Kisah Pembangunan oleh Wali Songo, Misteri Soko Tatal Sunan Kalijaga & Jejak Peradaban Islam Nusantara
Jelajahi sejarah Masjid Agung Demak, mahakarya Wali Songo abad ke-15. Ungkap misteri tiang Soko Tatal Sunan Kalijaga dan filosofi arsitektur Islam Jawa di sini.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern dan laju zaman yang tak terbendung, sebuah bangunan epik peninggalan abad ke-15 masih berdiri kokoh di pusat Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Bangunan tersebut adalah Masjid Agung Demak, sebuah monumen yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga saksi bisu kebangkitan peradaban Islam di Nusantara.
Lebih dari sekadar tumpukan kayu jati dan bata, sejarah Masjid Demak sarat akan cerita kolaborasi agung antara sembilan wali (Wali Songo), kecerdasan arsitektur tradisional yang luar biasa, hingga sebuah legenda ikonik tentang sebatang tiang dari serpihan kayu buatan Sunan Kalijaga. Mari kita telusuri secara detil dan mendalam bagaimana salah satu masjid tertua di Indonesia ini dibangun, serta warisan filosofis apa yang disembunyikannya hingga kini.
1. Latar Belakang Berdirinya Masjid Agung Demak
Sejarah panjang Masjid Agung Demak tidak bisa dilepaskan dari masa transisi antara runtuhnya kejayaan Hindu-Buddha Kerajaan Majapahit dan lahirnya Kesultanan Demak Bintoro sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Kesultanan ini dipimpin oleh Raden Patah, seorang pangeran keturunan Majapahit yang telah memeluk agama Islam.
Menurut catatan sejarah dan Babad Tanah Jawi, Masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1479 Masehi (atau 1401 Tahun Saka). Penanggalan ini didasarkan pada sebuah Candrasengkala (rumusan penanggalan kuno Jawa) berupa ukiran gambar bulus (kura-kura) yang berada di mihrab masjid. Ukiran tersebut melambangkan makna Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang jika dikonversi ke dalam angka bermakna tahun 1401 Saka. Ada pula Candrasengkala pada pintu utama yang berbunyi Naga Mulat Saliro Wani, yang juga menunjuk pada tahun yang sama.
Pendirian masjid ini diinisiasi secara langsung oleh Raden Patah bersama dengan Dewan Wali Songo. Mereka menyadari bahwa untuk menyebarkan Islam secara masif dan damai di pulau Jawa, dibutuhkan sebuah pusat pemerintahan sekaligus pusat ibadah yang representatif. Demak, yang dulunya merupakan kawasan hutan rawa berbau wangi (Bintoro), disulap menjadi pusat peradaban baru.
2. Kolaborasi Wali Songo dalam Pembangunan Soko Guru
Hal yang paling menarik dari sejarah Masjid Demak adalah fakta bahwa proses pembangunannya merupakan sebuah proyek gotong royong tingkat tinggi dari para Wali Songo. Pembangunan struktur utama masjid ini ditopang oleh empat tiang penyangga utama raksasa yang dikenal dengan nama Soko Guru.
Masing-masing dari empat Soko Guru ini dikerjakan secara individual oleh empat anggota Wali Songo yang sangat dihormati. Pembagian tugas ini bukan sekadar urusan teknis pembangunan, tetapi mengandung makna filosofis tentang persatuan umat Islam di bawah panji-panji yang dibawa oleh para ulama besar. Berikut adalah pembagian tugas pembuatan Soko Guru:
- Tiang Barat Laut: Dikerjakan oleh Sunan Bonang.
- Tiang Barat Daya: Dikerjakan oleh Sunan Gunung Jati.
- Tiang Tenggara: Dikerjakan oleh Sunan Ampel.
- Tiang Timur Laut: Dikerjakan oleh Sunan Kalijaga.
Setiap tiang ini mewakili wilayah dakwah dan pengaruh spiritual dari masing-masing wali. Dari keempat tiang tersebut, tiang yang menjadi tanggung jawab Sunan Kalijaga-lah yang paling banyak menyimpan kisah mistis dan legendaris hingga diabadikan dalam berbagai literatur sejarah Jawa.
3. Epik Soko Tatal: Kecerdasan dan Karomah Sunan Kalijaga
Di antara segala cerita yang mengiringi pembangunan Masjid Agung Demak, legenda Soko Tatal merupakan episentrum pesonanya. Berbeda dengan ketiga wali lainnya yang membuat tiang penyangga dari satu batang kayu jati utuh yang besar, tegak, dan solid, Sunan Kalijaga memiliki cerita yang sepenuhnya berbeda.
Dikisahkan bahwa pada masa pembangunan Soko Guru, Sunan Kalijaga sedang melakukan perjalanan dakwah yang sangat jauh. Beliau sibuk mendamaikan masyarakat dan menyiarkan Islam di pelosok-pelosok tanah Jawa. Karena kesibukannya dalam berdakwah, Sunan Kalijaga datang terlambat ke Demak. Pada saat beliau tiba, ketiga Soko Guru milik Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Ampel sudah berdiri kokoh. Kayu jati raksasa berspesifikasi khusus yang disiapkan untuk tiang pun sudah habis terpakai.
Waktu peresmian masjid sudah semakin dekat. Raden Patah mulai cemas melihat tiang keempat belum kunjung berdiri, yang berarti atap masjid tak bisa dipasang. Di sinilah Sunan Kalijaga menunjukkan karomah (keajaiban dari Allah SWT bagi para kekasih-Nya) sekaligus pemikiran out-of-the-box yang revolusioner.
Bukannya membatalkan proyek atau meminta waktu berbulan-bulan untuk mencari pohon jati raksasa yang baru di tengah hutan belantara, Sunan Kalijaga justru mengumpulkan tatal—yaitu kepingan-kepingan sisa kayu atau serutan kayu jati limbah dari pembuatan ketiga tiang wali lainnya. Sunan Kalijaga kemudian merapikan potongan-potongan kayu acak tersebut, menyusunnya dengan ketelitian tinggi, lalu mengikatnya menjadi satu kesatuan yang besar. Konon, malam harinya beliau bermunajat, dan dengan karomah spiritual yang luar biasa, tumpukan serpihan kayu yang diikat tersebut berubah wujud menjadi tiang raksasa yang kokoh dan solid, sama kuatnya dengan ketiga kayu jati utuh lainnya.
4. Filosofi Mendalam di Balik Soko Tatal
Kisah Soko Tatal bukan sekadar mitos atau pamer kesaktian. Dalam tradisi sejarah Islam di Jawa, setiap tindakan Wali Songo sarat akan semiotika dan pesan dakwah tersirat. Apa sebenarnya makna di balik serpihan kayu yang diikat menjadi penyangga sebuah rumah ibadah?
- Simbol Persatuan dalam Keberagaman: Tatal (serpihan kayu) melambangkan masyarakat Jawa pada saat itu yang sedang tercerai-berai secara sosial, politik, dan keyakinan pasca-runtuhnya Majapahit. Serpihan yang tak berharga itu, ketika diikat dengan sebuah ikatan suci (Aqidah Islam), akan menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu menopang bangunan agama dan negara.
- Kepedulian terhadap Kaum Marginal: Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai walinya rakyat jelata, memberikan pesan bahwa orang kecil, miskin, dan tersingkir (diibaratkan sisa kayu), sejatinya memiliki tempat dan peran yang setara dan penting dalam Islam bila disatukan.
- Kecerdasan Ekologis (Daur Ulang): Dari kacamata modern, Sunan Kalijaga mengajarkan efisiensi bahan dan zero waste. Beliau memanfaatkan limbah tatal kayu yang dianggap tidak berguna menjadi komponen struktur bangunan yang sangat fungsional.
Hingga hari ini, Soko Tatal asli tersebut masih disimpan secara rapi di dalam museum Masjid Agung Demak setelah pada masa pemugaran tahun 1980-an diganti demi alasan keamanan struktural. Meski telah berlalu ratusan tahun, wujud serpihan yang disatukan itu masih memicu rasa kagum bagi siapa pun yang melihatnya.
5. Keunikan Arsitektur Masjid Demak: Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Jawa
Pendekatan dakwah Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, sangat mengedepankan akulturasi (perpaduan) budaya tanpa melanggar syariat tauhid pokok. Hal ini tercermin sangat jelas pada mahakarya arsitektur Masjid Demak. Alih-alih mengadopsi gaya arsitektur Timur Tengah yang identik dengan kubah bulat (dome), Masjid Demak dibangun menggunakan konsep atap Tajug (tumpang tiga) berbahan sirap (kayu).
Makna Atap Tumpang Tiga (Tajug):
Atap meruncing yang bersusun tiga lapis ini memiliki kemiripan dengan bangunan pura atau tempat ibadah peninggalan Hindu-Buddha (Meru). Ini adalah strategi brilian Sunan Kalijaga agar masyarakat lokal tidak merasa terasing dengan rumah ibadah agama baru ini. Lebih dalam lagi, secara nilai-nilai Islam, tiga tingkatan atap ini merupakan manifestasi dari ajaran dasar agama:
- Iman: Keyakinan mendasar di dalam hati (lapisan bawah).
- Islam: Pelaksanaan syariat seperti sholat, puasa, dan zakat (lapisan tengah).
- Ihsan: Tingkatan spiritual tertinggi, di mana seseorang beribadah seakan-akan melihat Tuhannya (lapisan puncak yang meruncing ke atas/Esa).
Ada pula yang menafsirkan tiga atap ini sebagai fase Syariat, Thariqat, dan Hakikat dalam ajaran tasawuf. Sebuah representasi mendalam yang menggabungkan esensi ketuhanan dengan kearifan lokal.
6. Artefak Magis Masjid Agung Demak: Pintu Lawang Bledeg
Selain Soko Guru, mahakarya bersejarah lain yang tidak boleh dilupakan di Masjid Agung Demak adalah pintu utamanya, yang dikenal luas dengan sebutan Lawang Bledeg (Pintu Petir).
Lawang Bledeg ini merupakan pintu kayu jati yang dihiasi ukiran bermotif naga atau flora mistis. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo, seorang tokoh linuwih yang konon memiliki kemampuan menangkap petir menggunakan tangannya sendiri. Ukiran naga pada pintu tersebut tidak lain adalah perwujudan (visualisasi) dari wujud petir yang berhasil ditangkap olehnya. Ukiran tersebut sekaligus difungsikan sebagai Candrasengkala (penanda waktu) berdirinya Masjid yang berbunyi Naga Mulat Saliro Wani (Naga Melihat Dirinya Berani).
Secara harfiah masyarakat tradisional percaya bahwa ukiran pada Lawang Bledeg ini mampu berfungsi sebagai penangkal petir alami, menjaga keutuhan masjid dari sambaran halilintar saat musim hujan ekstrem di tanah Bintoro. Saat ini, pintu asli Lawang Bledeg telah dikonservasi dan dipindahkan ke dalam museum masjid untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat cuaca dan usia.
7. Serambi Majapahit dan Makam Raja-Raja Demak
Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Demak semakin makmur. Masjid Agung Demak pun mengalami perluasan. Salah satu penambahan yang signifikan adalah Serambi Masjid yang luas dan terbuka dengan penyangga berupa tiang-tiang artistik. Serambi ini dibangun oleh Adipati Unus (Pangeran Sabrang Lor) dan diyakini materialnya dibawa langsung dari sisa-sisa reruntuhan Keraton Majapahit, mempertegas transisi kekuasaan dan legitimasi bahwa Kesultanan Demak adalah ahli waris sah Nusantara dari Majapahit.
Di kawasan kompleks masjid, pengunjung juga dapat menemukan kompleks pemakaman kuno. Di makam inilah bersemayam para tokoh besar pelopor Islam di tanah Jawa. Di antaranya adalah pendiri Kerajaan Demak itu sendiri, Raden Patah, putranya Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor), hingga Sultan Trenggono yang membawa Demak ke puncak keemasannya. Makam ini selalu ramai diziarahi oleh ribuan umat dari seluruh penjuru Indonesia setiap pekannya.
8. Nilai Edukasi dari Sejarah Pembangunan Masjid Demak
Mempelajari sejarah Masjid Demak memberikan kita banyak pelajaran berharga yang tetap relevan hingga di era modern saat ini. Melalui pendekatan Wali Songo, khususnya gagasan-gagasan kebudayaan dari Sunan Kalijaga, kita diajarkan tentang pentingnya:
- Toleransi Beragama dan Budaya: Masuknya Islam di tanah Jawa tidak dilakukan melalui ekspansi pedang, melainkan melalui kompromi estetika, pertunjukan wayang, dan asimilasi arsitektur.
- Kolaborasi (Gotong Royong): Proyek empat Soko Guru dari empat wali yang berbeda mengajarkan bahwa untuk membangun sebuah “rumah” besar (negara/umat), dibutuhkan kerendahan hati dan kesediaan untuk bekerja sama antar para pemimpin.
- Pemecahan Masalah Kreatif: Hadirnya inovasi Soko Tatal menunjukkan pentingnya mencari solusi inovatif dalam situasi krisis dengan memanfaatkan apa pun yang ada di sekitar kita.
Kesimpulan
Menilik sejarah Masjid Demak membawa kita masuk ke dalam mesin waktu pada sebuah era gemilang abad ke-15. Masjid ini bukan saja tonggak peradaban Islam di pulau Jawa, tetapi merupakan karya agung arsitektural yang didesain dengan penuh filosofi perdamaian. Peran sentral Wali Songo dalam mendesain pondasi spiritual dan legenda Soko Tatal mahakarya Sunan Kalijaga akan selalu terukir sebagai bukti bahwa harmoni antara syariat langit dan tradisi bumi bisa diwujudkan dengan sangat indah. Bagi Anda yang menyukai sejarah Islam nusantara maupun arsitektur, mengunjungi dan merenungi keagungan Masjid Agung Demak secara langsung adalah sebuah pengalaman spiritual yang tak boleh Anda lewatkan seumur hidup.
Referensi:
- Sunyoto, Agus. (2016). Atlas Wali Songo. Pustaka IIMaN.
- Ricklefs, M.C. (2001). Sejarah Indonesia Modern 1200–2004. Serambi.
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Cagar Budaya Nasional).
- Babad Tanah Jawi (Teks Klasik tentang Sejarah Raja-Raja Jawa).
QS: Al-Hajj (22) : 46
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِMaka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
----------Al-Qur'an lengkap




