Berterima Kasih ke Qatar, Presiden Iran Tegaskan Ingin Akhiri Konflik dan Ketegangan Kawasan Teluk
Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Berterima Kasih ke Qatar, Presiden Iran Tegaskan Ingin Akhiri Konflik dan Ketegangan Kawasan Teluk

SisiIslam.com, TEHERAN – Presiden Iran Pezeshkian berterima kasih ke Qatar dan tegaskan kesiapan akhiri konflik. Negosiasi dengan AS disebut memasuki babak baru menuju stabilitas. Simak kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.


Dalam langkah diplomatik yang mengejutkan sekaligus penuh harapan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Qatar dan menegaskan bahwa Iran ingin akhiri konflik serta ketegangan yang berkepanjangan di kawasan Teluk.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian langsung kepada Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, yang selama ini dikenal konsisten mendukung berbagai upaya perdamaian regional. Momen ini menjadi sinyal kuat bahwa negosiasi damai Iran-AS memasuki babak baru yang lebih serius.

Kesiapan Iran Menuju Kerangka Bermartabat

Dalam pernyataan resmi dari Kantor Kepresidenan Iran pada Selasa (26/5/2026), Pezeshkian menyampaikan:

“Presiden Iran berterima kasih kepada Pemerintah Qatar atas dukungan dan upaya konstruktif yang berkelanjutan dalam upaya perdamaian, menyatakan kesiapan Iran untuk bergerak menuju kerangka kerja bermartabat guna mengakhiri perang dan ketegangan regional saat ini.”

Pernyataan ini menjadi sorotan utama karena di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel, Iran justru memilih jalur diplomasi terbuka dengan menyebut bahwa Washington perlu menunjukkan kesungguhannya untuk perdamaian.

Baca Juga:  Presiden Prancis Dianggap Islamofobia, Tetap Melarang Penggunaan Abaya di Sekolah

“Upaya serius sedang dilakukan, termasuk di tingkat ahli, untuk menyelesaikan dokumen dan teks guna mempersiapkan jalan yang jelas menuju stabilitas,” tegas Pezeshkian.

Peran Qatar dan Negosiasi Rahasia di Doha

Pada awal pekan ini, Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf memimpin delegasi tinggi Iran dalam putaran negosiasi damai dengan AS yang berlangsung di Qatar. Topik utama pembicaraan dilaporkan menyentuh isu sensitif: pencairan aset Iran oleh Washington.

Mengutip sumber dekat tim negosiasi Iran, Kantor Berita Tasnim mengungkapkan bahwa proposal penyelesaian yang diajukan Iran berisi 14 poin. Salah satu tuntutan utamanya adalah agar AS mencairkan aset Iran di luar negeri senilai 24 miliar dolar AS (sekitar Rp 427,2 triliun).

Dari jumlah tersebut, setengahnya akan dilepaskan pada tahap pertama, dan sisanya menyusul kemudian. Ini menjadi salah satu poin kunci yang disebut-sebut akan menentukan arah stabilitas kawasan Teluk ke depan.

Opini Publik AS Mulai Terbelah

Sementara itu, laporan CNN yang dikutip Anadolu pada Rabu menunjukkan bahwa opini publik di AS mulai terbelah seiring pemerintahan Trump memberi sinyal kemajuan menuju kesepakatan dengan Iran.

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan:

  • Banyak warga AS skeptis terhadap perluasan perang dengan Iran.
  • Namun, mereka tetap menilai program nuklir dan pengaruh regional Teheran sebagai ancaman serius.
  • Para pemilih cenderung mendukung upaya mengatasi ancaman di luar negeri, tetapi enggan terlibat dalam operasi militer berkepanjangan.
Baca Juga:  Negara Mayoritas Muslim Mengekspresikan Kemarahan atas Penodaan Quran di Swedia

Perdebatan publik ini muncul di tengah upaya negosiator AS dan Iran yang terus bekerja, termasuk membahas tiga isu besar:

  1. Pembukaan kembali Selat Hormuz
  2. Pencabutan sanksi
  3. Kegiatan nuklir Iran

Tantangan Gedung Putih dan Peringatan Rubio

Bagi Gedung Putih, tantangan politiknya sangat besar. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus kuat dan menguntungkan AS. Namun, para kritikus memperingatkan bahwa penyelesaian yang terburu-buru justru dapat memberikan Iran terlalu banyak pengaruh di kawasan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington ingin Selat Hormuz dibuka kembali dan menyatakan AS siap memastikan kebebasan navigasi dengan cara apa pun. Di dalam negeri, isu ini telah memicu perpecahan di antara pemilih dan anggota parlemen.

Pesan Damai di Tengah Ketegangan

Meskipun terjadi ketegangan baru—termasuk serangan AS yang dikecam Teheran sebagai pelanggaran gencatan senjata—pembicaraan terus berlanjut melalui perantara regional. Iran menunjukkan konsistensi bahwa mengakhiri konflik bukan sekadar retorika, melainkan agenda nyata yang sedang dirumuskan secara bertahap.

Dengan dukungan Qatar sebagai mediator tepercaya, serta isyarat dari Washington yang mulai melunak, publik kini menanti apakah stabilitas kawasan Teluk benar-benar akan terwujud atau kembali tertunda oleh kepentingan politik jangka pendek.


Redaksi: Sisi Islam Media
Ikuti terus perkembangan terbaru seputar negosiasi damai Iran-AS dan dinamika geopolitik Timur Tengah hanya di SisiIslam.com.

QS: Al-Ma'idah (5) : 117

مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۚوَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ۗوَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

----------
Al-Qur'an lengkap