
Mengapa Iran Tak Jatuh Meski Puluhan Tokohnya Dibunuh AS-Israel? Ini Rahasia “Persaudaraan” Garda Revolusi
SisiIslam.com, TEHERAN – Mengapa Iran tak jatuh meski puluhan tokohnya dibunuh AS-Israel? Media barat ungkap rahasia di balik ketahanan rezim Teheran. Simak kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.
Puluhan pemimpin politik dan militer Iran gugur dalam berbagai serangan pembunuhan yang diklaim atau didalangi oleh AS dan Israel. Namun, mengapa Iran tak jatuh? Mengapa rezim di Teheran tetap kokoh meski kehilangan tokoh-tokoh kuncinya?
Sebuah laporan eksklusif dari media Barat, The New York Times (NYT), mengungkap fakta mengejutkan di balik ketahanan sistem kekuasaan Iran. Rahasianya bukan terletak pada satu pemimpin, melainkan pada “sebuah persaudaraan” para komandan senior Garda Revolusi Islam (IRGC) yang telah mengakar sejak perang Iran-Irak.
Kekosongan Kekuasaan Usai Pembunuhan Ali Khamenei?
Laporan NYT yang dirilis baru-baru ini mengungkap bahwa pembunuhan pemimpin tertinggi spiritual Iran, Ali Khamenei, dalam serangan Israel pada 28 Februari lalu sempat menciptakan kekosongan di puncak kekuasaan. Putranya, Mojtaba Khamenei (56 tahun), langsung diangkat sebagai pengganti.
Namun, para pejabat senior Iran mengakui bahwa Mojtaba tidak memiliki pengarih dan otoritas spiritual seperti ayahnya.
“Semua masalah penting dijalankan oleh pewaris berusia 56 tahun itu, tetapi pengambilan keputusan dilakukan lebih dari satu orang,” tulis laporan NYT.
Persaudaraan Garda Revolusi: Kunci Mengapa Iran Tak Jatuh
Lalu, siapa yang sebenarnya mengendalikan Iran saat ini? Menurut laporan tersebut, sekelompok kecil elite pria di posisi senior—sebagian besar komandan senior Garda Revolusi Islam (IRGC)—kini memandu pengambilan keputusan di Teheran.
Kelompok ini dijuluki “kelompok saudara” (brotherhood). Mereka adalah para veteran yang berpengalaman sejak perang brutal delapan tahun antara Iran dan Irak pada 1980-an.
Latar Belakang yang Mempersatukan
Didirikan pada tahun 1979 untuk melindungi revolusi Islam, IRGC mempromosikan para komandan ini ke pangkat jenderal saat usia mereka masih akhir 20-an atau awal 30-an. Dukungan Barat terhadap Irak dalam perang justru meyakinkan Teheran bahwa Iran harus menempuh jalannya sendiri, apa pun risikonya.
Sepanjang karier mereka, para tokoh ini kemudian mengendalikan dinas intelijen atau keamanan Iran. Mereka memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Mojtaba Khamenei sejak ia memimpin kantor ayahnya.
“Orang-orang ini termasuk tokoh-tokoh garis keras di negara itu—militan bukan hanya dalam hal melanggengkan revolusi Islam, tetapi juga dalam metode keras yang mereka dukung saat menjalankan organ utama penindasan pemerintah,” jelas laporan NYT.
Intelijen dan Ketakutan Jadi Senjata Utama
Para ahli menyebutkan bahwa kesamaan latar belakang, karier, dan pandangan ideologis inilah yang menjadi alasan mengapa perang, runtuhnya pemerintahan, hingga pembunuhan sekitar 50 pemimpin politik dan militer Iran tidak mampu melumpuhkan Teheran.
Saeid Golkar, seorang ahli Garda Revolusi dan profesor ilmu politik di Universitas Tennessee, Chattanooga, menjelaskan kepada NYT:
“Mereka kini telah bergabung dan menjadi sebuah persaudaraan yang menjalankan negara. Mereka memiliki informasi dan intelijen, mereka tahu bagaimana sistem bekerja, tentang oposisi, tentang kaum reformis, bahkan tentang kelompok garis keras.”
Kelompok ini dikabarkan rutin menggelar survei, mengendalikan opini, dan menjalankan spionase secara masif. Karena dominasi atas intelijen tersebut, mereka secara bertahap menjadi aktor dominan dalam hampir semua aspek politik di Iran.
Hidup dalam Bayang-bayang Ancaman
Meski begitu, laporan NYT menambahkan bahwa cara operasi dan pembagian kekuasaan kelompok ini sebagian besar masih belum jelas. Beberapa dari mereka telah berada di luar sorotan jauh sebelum perang dimulai, dan kini tetap bersembunyi karena takut menjadi target pembunuhan berikutnya dari AS atau Israel.
Namun, justru di balik bayang-bayang ancaman itulah mengapa Iran tak jatuh. Sistem kolektif kepemimpinan yang dijalankan oleh “persaudaraan” intelijen Garda Revolusi terbukti lebih tangguh daripada sistem yang bergantung pada satu figur tunggal.
Kesimpulan: Bukan Satu Pemimpin, Tapi Satu Sistem
Kesimpulan dari media Barat ini memberikan perspektif baru bagi dunia. Ketahanan Iran bukanlah karena satu pemimpin yang tak tersentuh, melainkan karena jaringan elite ideologis yang saling terkait erat, berpengalaman dalam perang dan intelijen, serta memiliki kesamaan visi menjaga revolusi Islam dengan cara apa pun.
Selama “persaudaraan” ini masih utuh, selama itu pula rezim Iran tak akan jatuh—meski puluhan tokohnya dibunuh AS dan Israel. [*Sod]
QS: Al-Mulk (67) : 7
اِذَآ اُلْقُوْا فِيْهَا سَمِعُوْا لَهَا شَهِيْقًا وَّهِيَ تَفُوْرُۙApabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu membara,
----------Al-Qur'an lengkap







