America’s Middle East: Bukti Kebijakan AS Dirancang untuk Menghancurkan Timur Tengah
Lynch menggambarkan kebijakan luar negeri Amerika tanpa landasan moral yang konsisten

America’s Middle East: Bukti Kebijakan AS Dirancang untuk Menghancurkan Timur Tengah

SisiIslam.com – Buku Marc Lynch ungkap kebijakan AS di Timur Tengah tidak gagal, tapi sengaja dirancang untuk menghancurkan kawasan. Gaza jadi puncak sistem. Baca ringkasan isi selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.


Sebuah buku baru karya Marc Lynch, profesor Universitas George Washington, mengguncang narasi arus utama tentang peran Amerika Serikat di Timur Tengah. Berjudul America’s Middle East: How Washington Brought Ruin to the Region, buku ini dengan berani menyatakan bahwa kebijakan AS tidak pernah gagal. Sebaliknya, kebijakan itu sengaja dirancang untuk menjaga Timur Tengah tetap hancur, terfragmentasi, dan tunduk pada kepentingan Washington.

Buku ini ditulis sebagai perlawanan terhadap amnesia sejarah dan terhadap “hiburan berminyak” yang biasa dipakai kekaisaran untuk menutupi kejahatan mereka. Lynch, yang telah lama berkecimpung di dunia kebijakan dan akademisi, menggunakan pengalaman langsungnya untuk membedah bagaimana mesin kebijakan AS bekerja persis seperti yang dirancang—bukan karena kesalahan teknis, tapi karena desain sistemik.

Bukan Kegagalan, tapi Keberhasilan Sistem yang Brutal

Lynch menolak pandangan bahwa AS gagal membawa perdamaian dan demokrasi ke Timur Tengah. Menurutnya, sejak 1991, AS justru membangun tatanan kawasan bernama “America’s Middle East” yang didasarkan pada:

  • Superioritas militer
  • Perlindungan mutlak terhadap Israel
  • Persiapan dan perlindungan rezim-rezim otokratis sekutu AS
  • Pengekangan Iran
  • Politisasi penderitaan Arab dan Muslim menjadi “kebisingan latar strategis”
Baca Juga:  Kemerdekaan Indonesia: Mengenang Perjuangan dan Membangun Masa Depan

“Ini bukan kegagalan. Ini adalah keberhasilan menurut metrik kekuasaan AS: Israel aman, minyak mengalir, diktator tetap bersahabat, dan Iran dikurung,” tulis Lynch.

Palestina sebagai Pusat Moral, Oslo sebagai Struktur Penindasan

Buku ini menjadikan Palestina sebagai pusat moral dari seluruh argumennya. Lynch dengan tajam mengkritik proses perdamaian Oslo. Baginya, Oslo bukanlah kesempatan yang sia-sia, melainkan struktur yang mengubah pendudukan menjadi proses, pengusiran menjadi negosiasi, dan eksistensi politik Palestina menjadi sekadar “masalah keamanan” yang perlu dikelola.

Gaza, dalam bacaan Lynch, bukanlah penyimpangan. Ia adalah titik akhir dari sistem yang memperlakukan nyawa Palestina sebagai hal yang tidak nyaman secara administratif—dan perlawanan mereka sebagai bukti ketidaklayakan akan kebebasan.

Dari Bush ke Biden: Kontinuitas di Balik Janji Pivot

Salah satu kekuatan buku ini adalah menunjukkan kesinambungan kebijakan di balik pergantian presiden AS.

  • George HW Bush meluncurkan tatanan dari reruntuhan Irak.
  • Bill Clinton menguduskannya melalui sanksi dan teater Oslo.
  • George W. Bush menghancurkan Irak atas nama demokrasi.
  • Barack Obama melihat lebih jernih, tetapi tetap ditarik kembali oleh kebiasaan warisan.
  • Donald Trump membuang pretensi liberal, merayakan kekejaman transaksional.
  • Joe Biden, sang institusionalis, mencapai nadir moral dengan mempersenjatai dan melindungi Israel saat Gaza digiling.

Tidak ada perubahan fundamental. Hanya wajah yang berganti.

Islamisme Bukan Ancaman Peradaban, Tapi Produk dari Tatanan AS

Lynch menolak kebiasaan malas Washington yang memperlakukan Islamisme sebagai ancaman peradaban tunggal. Dalam bukunya, Hamas, Ikhwanul Muslimin, Hizbullah, dan Houthi ditempatkan dalam konteks politik spesifik: pendudukan, perang, kebijakan apartheid, dan represi.

Baca Juga:  Mengapa Umat Muslim Percaya Bahwa Islam Adalah Agama yang Benar?

“Yang penting adalah bahwa tatanan AS telah berulang kali membantu memproduksi kekuatan Islamis yang kemudian diklaim dilawannya,” tulis Lynch.

Dengan menutup jalur politik non-kekerasan, mendukung diktator yang membantai Islamis terpilih, dan menoleransi pendudukan, AS justru menjadi pabrik radikalisasi.

Hipokrisi sebagai Infrastruktur

Judul America’s Middle East memang eksak. Ini bukan Timur Tengah yang dihidupi oleh rakyatnya, penyairnya, pekerjanya, atau syuhadanya. Ini adalah konstruksi geopolitik yang dipertahankan dengan eufemisme.

Lynch menyebutnya sebagai “hipokrisi sebagai infrastruktur” :

  • Hukum internasional dipanggil untuk musuh, ditangguhkan untuk sekutu.
  • Demokrasi dipuji sampai mengancam kawan AS.
  • Hak asasi manusia dinegosiasikan saat kontrak senjata dan pangkalan militer dipertaruhkan.

Mengapa Buku Ini Wajib Dibaca Sekarang?

Lynch menulis bukan dari luar, tapi dari dalam lingkaran kuasa AS. Itulah yang membuat bukanya begitu menghancurkan sekaligus jernih. Dia bukan sekadar mengecam. Dia menjelaskan bagaimana kebijakan menjadi alamiah, bagaimana perbedaan pendapat menjadi marginal, dan bagaimana institusi mengajari orang-orang baik untuk membela hasil yang tidak bermoral.

“Apa jika struktur yang mengklaim mencegah kekacauan justru menjadi penulis utamanya? Apa jika kehancuran tidak disengaja, tapi kumulatif? Apa jika kejelasan moral dimulai dengan mengakui bahwa mereka yang berada di bawah bom selalu lebih memahami sistem daripada mereka yang menjatuhkannya?”

America’s Middle East oleh Marc Lynch adalah karya yang brilian, penting, dan menyedihkan. Perayaannya bukan terletak pada keceriaan, tapi pada penolakannya terhadap keputusasaan. Menggambarkan penjara adalah juga bentuk penegasan bahwa dindingnya dibuat—dan bisa dihancurkan.

Baca Juga:  Puasa Ramadhan dan Menghindari Gaya Hidup Mewah

Penulis: Sodikin Masrukin
Editor: Redaksi Sisi Islam Media

QS: Al-Qalam (68) : 30

فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَلَاوَمُوْنَ

Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.

----------
Al-Qur'an lengkap