Amphuri Desak Kebijakan Berkeadilan Respons Lonjakan Tiket Umrah Akibat Geopolitik Timur Tengah
Amphuri Desak Kebijakan Berkeadilan Respons Lonjakan Tiket Umrah

Amphuri Desak Kebijakan Berkeadilan Respons Lonjakan Tiket Umrah Akibat Geopolitik Timur Tengah

JAKARTA, SisiIslam.Com – Amphuri minta kebijakan berkeadilan hadapi kenaikan tiket umrah. Travel umrah tertekan, jamaah kelas menengah terancam gagal berangkat ke Tanah Suci. Baca kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.


Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah RI (Amphuri) menyatakan bahwa lonjakan harga tiket umrah akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah telah menekan serius ekosistem umrah nasional. Organisasi ini pun menegaskan perlunya kebijakan berkeadilan dari pemerintah agar beban tidak sepenuhnya ditanggung jamaah.

Harga Tiket Umrah Melonjak, Travel Umrah Tertekan

Ketua Litbang DPP Amphuri sekaligus akademisi dan analis kebijakan publik, Ulul Albab, menjelaskan bahwa kenaikan tiket umrah bukan sekadar fluktuasi biasa. Maskapai penerbangan disebut menghadapi kenaikan biaya operasional akibat perubahan rute penerbangan, peningkatan premi asuransi, risiko keamanan kawasan, serta keterbatasan slot dan seat penerbangan.

“Harga tiket yang melonjak drastis bukan hanya mengganggu stabilitas bisnis penyelenggara umrah, tetapi juga memukul kemampuan masyarakat untuk menjalankan ibadah ke Tanah Suci,” ujar Ulul Albab di Jakarta, Jumat.

Kebijakan Berkeadilan: Jangan Bebankan Semua Risiko ke Jamaah

Amphuri menilai bahwa seluruh kenaikan biaya tidak bisa serta-merta dibebankan habis kepada konsumen, dalam hal ini travel umrah dan jamaah. Menurut Ulul Albab, jika seluruh risiko industri penerbangan langsung dipindahkan kepada masyarakat, maka kondisi itu bukan lagi penyesuaian bisnis yang sehat, melainkan menciptakan ketimpangan beban dalam rantai ekosistem umrah.

Baca Juga:  Persiapan Haji 2026: 45 Klinik Kesehatan Disiagakan di Makkah dan Madinah untuk Layani Jamaah

“Saat ini travel umrah berada pada posisi sulit. Tidak mungkin menaikkan harga secara ekstrem demi menjaga kepercayaan jamaah, tapi juga tidak mampu menyerap kenaikan harga tiket secara terus-menerus,” tambahnya.

Jamaah Kelas Menengah Terancam Gagal Berangkat

Dampak paling nyata dari lonjakan harga tiket umrah ini, kata Ulul Albab, akhirnya kembali kepada jamaah. Banyak calon jamaah berasal dari masyarakat kelas menengah yang telah menabung bertahun-tahun. Kenaikan biaya mendadak dapat membuat keberangkatan tertunda, bahkan gagal.

Karena itu, Amphuri menegaskan situasi ini tidak boleh sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar tanpa intervensi kebijakan dan empati dari pelaku industri.

Rekomendasi Amphuri untuk Stabilisasi Harga Tiket Umrah

Dalam rangka mewujudkan kebijakan berkeadilan dan menjaga kesehatan industri umrah nasional, Amphuri mendorong langkah konkret berikut:

  1. Forum khusus antara asosiasi umrah dan maskapai penerbangan untuk membahas stabilisasi harga tiket selama masa krisis geopolitik.
  2. Skema harga khusus atau kuota seat khusus umrah bagi penyelenggara resmi.
  3. Kerja sama jangka panjang melalui kontrak tahunan, block seat kolektif, dan skema harga bertingkat untuk menekan volatilitas harga.
  4. Diplomasi aviasi pemerintah dengan berbagai maskapai internasional guna memperluas akses dan alternatif penerbangan umrah.
  5. Insentif tertentu seperti kemudahan slot penerbangan, efisiensi biaya bandara, dan dukungan regulasi pada masa krisis.

Krisis Adalah Ujian Bersama

Ulul Albab mengingatkan bahwa eskalasi geopolitik ini sesungguhnya harus menjadi ujian bersama. Maskapai membutuhkan keberlangsungan bisnis. Travel membutuhkan kepastian operasional. Jamaah membutuhkan perlindungan. Dan pemerintah membutuhkan stabilitas pelayanan ibadah umat.

Baca Juga:  ISEI Dorong Ekonomi Syariah Jadi Pilar Transformasi Nasional: Sinergi Regulator, Industri, dan Akademisi

“Pemerintah tidak hanya bertindak sebagai regulator administratif, tetapi juga pelindung ekosistem pelayanan ibadah umat. Maskapai pun sebaiknya memandang penerbangan umrah bukan semata rute komersial, melainkan bagian dari pelayanan sosial-keagamaan bagi umat Islam Indonesia,” pungkasnya. [*fin]

QS: Ali Imran (3) : 199

وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِ ۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

----------
Al-Qur'an lengkap