
Tatanan Dunia Multipolar Dimulai: Rusia-China Gugat Dominasi Dolar AS dan Hegemoni Barat
SisiIslam.com, Beijing – Tatanan dunia multipolar dimulai saat Rusia-China gugat dominasi dolar AS. Akhir hegemoni Barat, keadilan ekonomi global kini bergeser ke mata uang lokal. Simak kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.
Selama puluhan tahun, dunia dipaksa tunduk pada satu aturan yang menguntungkan kekuatan Barat. Namun, titik balik keadilan global tampaknya mulai terbuka. Dunia multipolar kini resmi menjadi kenyataan setelah Rusia-China gugat dominasi dolar AS melalui penandatanganan 20 pakta strategis di Beijing, Rabu (20/5).
Pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Xi Jinping ini bukan sekadar rutinitas diplomatik, melainkan deklarasi kemandirian. Kedua pemimpin mengadopsi dokumen bersama untuk membangun model hubungan internasional baru yang lebih adil, mengakhiri era di mana satu negara bertindak sebagai penguasa tunggal.
Mengakhiri Hukum Rimba dan Hegemoni Barat
Dalam sambutannya, Presiden Xi Jinping secara tegas mengkritik tindakan sepihak yang selama ini menjadi ciri khas kebijakan Barat.
“Dunia saat ini sangat bergejolak. Kerusakan akibat tindakan sepihak dan hegemoni tidak terukur. Ada ancaman kembalinya hukum rimba,” ujar Xi.
Pernyataan ini menggambarkan kegelisahan global atas ketidakadilan yang ditimbulkan oleh sistem unipolar. Putin menegaskan, kemitraan ini justru makin menguat di tengah tekanan eksternal dan sanksi yang diskriminatif. Sebagai wujud nyata kemandirian, Rusia memastikan pasokan energi tanpa gangguan ke China dan membuka kebijakan bebas visa yang telah memfasilitasi jutaan warga kedua negara.
Runtuhnya Benteng Keuangan: Transaksi Tanpa Dolar AS
Selama ini, Dolar AS dan jaringan perbankan Barat seperti SWIFT kerap dijadikan senjata politik untuk menekan negara-negara yang tidak sejalan dengan Barat. Aset dibeku, akses diputus, dan ekonomi dipermalukan. Namun, hal ini kini berubah.
Putin mengumumkan kemenangan strategis: hampir seluruh transaksi perdagangan Rusia-China yang mencapai 200 miliar dolar AS kini menggunakan rubel dan yuan. Proses dedolarisasi ini adalah perisai pelindung umat dan bangsa-bangsa merdeka dari tekanan Barat. Negara-negara BRICS dan Global South kini aktif mengembangkan sistem pembayaran alternatif, membebaskan diri dari jeratan sistem keuangan internasional yang bias.
Dunia Multipolar: Harapan Keadilan bagi Global South
Lahirnya dunia multipolar membawa angin segar bagi negara-negara yang selama ini termarjinalkan. Dulu, banyak negara dipaksa menyesuaikan diri pada kehendak Washington. Kini, mereka memiliki ruang negosiasi yang lebih luas—bisa bermitra ekonomi dengan China, membeli energi dari Rusia, tanpa harus takut disanksi sepihak.
Meski transisi menuju keseimbangan baru ini berpotensi menimbulkan gejolak, pesan dari pertemuan Putin-Xi sangat jelas: era di mana satu kekuatan dapat memonopoli kebenaran dan menindas ekonomi negara lain telah usai. Perang sesungguhnya di abad ini bukan lagi di medan tempur, melainkan pertarungan membebaskan mata uang dunia dari penindasan sistem tunggal. [*Sod]
QS: An-Najm (53) : 14
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى(yaitu) di Sidratul Muntaha,
----------Al-Qur'an lengkap







