
Gus Yahya Ingatkan Muktamar NU ke-35 Jangan Jadi Batu Loncatan Politik Pemilu 2029
Jakarta, sisiislam.com – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf meminta Muktamar NU ke-35 tidak dijadikan batu loncatan politik menuju Pemilu 2029. Simak pernyataan lengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, kembali mengingatkan seluruh pihak agar pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang rencananya digelar pada Agustus mendatang tidak dimanfaatkan sebagai batu loncatan politik menuju Pemilu 2029.
Pernyataan tegas itu disampaikan Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Menurutnya, pesan serupa telah berulang kali ia sampaikan selama hampir lima tahun masa kepemimpinannya di organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
“Pesan itu sudah berkali-kali kita sampaikan selama hampir lima tahun ini bahwa NU tidak boleh menjadi kompetitor, tidak boleh menjadi kontestan di dalam kontestasi kekuasaan dan politik. Itu aja,” ujar Gus Yahya.
PBNU Pastikan Muktamar Bukan Ajang Kepentingan Elektoral
Lebih lanjut, Gus Yahya menegaskan bahwa PBNU akan mengupayakan agar agenda lima tahunan tersebut benar-benar bersih dari kepentingan politik praktis. Ia khawatir jika muktamar justru dijadikan panggung untuk meraih dukungan bagi kontestasi Pemilu 2029.
“Maka ya tentu saja kita akan upayakan bahwa Muktamar ini tidak menjadi ajang semacam batu loncatan untuk Pemilu 2029,” kata Gus Yahya dengan tegas.
Pesan ini menjadi penting mengingat dinamika politik nasional yang kerap melibatkan kader dan simpatisan NU dalam berbagai kontestasi. Gus Yahya ingin menjaga kemandirian NU sebagai organisasi keagamaan yang tidak terikat pada kepentingan kekuasaan tertentu.
Persiapan Muktamar: Rapat Pleno 21 Mei 2026
Terkait teknis penyelenggaraan, Gus Yahya menjelaskan bahwa saat ini PBNU masih terus melakukan persiapan matang. Muktamar NU ke-35 akan didahului oleh Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU.
“Hari ini ada rapat pertama panitia. Rais Aam sudah setuju untuk kita selenggarakan pleno tanggal 21 Mei nanti. Itu nanti untuk memutuskan waktu dan tempat Munas-Konbes,” jelas Gus Yahya.
Hasil Munas-Konbes nantinya akan menjadi forum utama untuk membahas sekaligus memutuskan lokasi serta waktu pasti pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
“Kemudian di Munas-Konbes itu akan dibicarakan dan diputuskan waktu dan tempat penyelenggaraan utama,” tambahnya.
Sebanyak 7 Daerah Calon Tuan Rumah
Menariknya, Gus Yahya mengungkapkan bahwa antusiasme daerah untuk menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 tergolong tinggi. Hingga saat ini, sudah banyak daerah yang mengajukan diri.
Berikut wilayah yang disebutkan:
- DKI Jakarta
- Sumatera Utara
- Sumatera Barat
- Nusa Tenggara Barat (NTB)
- Jawa Timur
- Jawa Tengah
- Jawa Barat
“Usul-usulan banyak sekali. Jakarta minta, Sumatera Utara, Sumatera Barat, NTB, Jawa Timur ada beberapa, Jawa Tengah, Jawa Barat, banyak sekali,” kata Gus Yahya.
Keputusan Akhir dengan “Cara NU”
Meski banyak usulan, Gus Yahya menegaskan bahwa keputusan akhir soal lokasi dan waktu muktamar tidak akan diambil secara tergesa-gesa. PBNU akan mengedepankan mekanisme khas NU yang berbasis musyawarah dan kebijaksanaan para kiai sepuh.
“Jadi nanti kita akan bicarakan, kita putuskan dengan cara NU lah. Cara NU itu artinya dengan kebijakan, wisdom dari para sesepuh kiai di lingkungan itu,” pungkas Gus Yahya.
Dengan pernyataan ini, publik menanti bagaimana proses Muktamar NU ke-35 berjalan tanpa dibayangi kepentingan politik praktis, sekaligus tetap menjaga marwah organisasi sebagai payung umat Islam Indonesia. (*fin)
QS: Al-Baqarah (2) : 67
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَDan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”
----------Al-Qur'an lengkap







