Dari Ploso ke Lirboyo: Mengapa Nama Pesantren Ini Kuat Jadi Tuan Rumah Muktamar NU 2026?
Jakarta (Media Sisi Islam) – Jejak safari Gus Yahya ke sejumlah kiai sepuh membawa wacana Muktamar NU ke-35 di Lirboyo. Simak alasan di balik usulan ini, respons Gus Muid, dan sejarah Lirboyo sebagai tuan rumah muktamar 1999.
Arus wacana pemilihan lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang sedianya digelar pada pertengahan tahun ini mulai mengerucut ke satu nama: Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Nama ini bukan sekadar usulan spontan, melainkan buah dari serangkaian dialog intens antara Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dengan para sesepuh dan pengasuh pesanten di Jawa Timur pasca Lebaran.
Dalam kunjungannya pada 28 Maret lalu, Gus Yahya tidak hanya bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Ploso Kediri, Sidogiri Pasuruan, hingga Bayt Al-Hikmah Pasuruan, tetapi juga menyerap nasihat-nasihat penting yang kini menjadi rujukan strategis. Salah satu pesan yang paling menonjol datang dari KH Nur Huda Jazuli. Sang kiai sepuh dengan tegas menyatakan bahwa pilar utama NU adalah kiai dan pesantren, sehingga Muktamar ke-35 selayaknya kembali ke akar budaya organisasi tersebut.
“Kiai dawuh agar Muktamar ke-35 NU dilaksanakan di pesantren. Bahkan secara spesifik beliau mengusulkan di Pesantren Lirboyo,” ujar Gus Yahya menirukan pesan yang disampaikan langsung kepada KH Anwar Mansur, pengasuh Lirboyo.
Usulan tersebut, yang disambut positif oleh keluarga besar Lirboyo, segera mendapat respons resmi. Juru Bicara Lirboyo, KH Oing Abdul Muid Shohib, mengonfirmasi bahwa pihaknya tidak hanya siap, tetapi juga telah memiliki peta jalan berdasarkan pengalaman masa lalu.
“Lirboyo memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan Muktamar NU, yakni pada 1999,” kenang Gus Muid, mengingatkan bahwa pesantren ini pernah menjadi pusat dinamika nasional NU 27 tahun silam. Dengan kapasitas sarana dan prasarana yang dinilai lebih matang saat ini, Lirboyo optimistis dapat mengakomodasi puluhan ribu peserta muktamar.
Namun, dalam pernyataannya, Gus Muid juga menekankan aspek kepatuhan terhadap mekanisme organisasi. Pihak pesantren memilih untuk tidak terburu-buru membahas teknis hingga ada keputusan resmi dari PBNU. Keputusan itu sendiri, menurut jadwal yang disampaikan Gus Yahya, akan melalui dua tahapan penting: Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) yang dijadwalkan pada April atau Mei mendatang.
Di sisi lain, pernyataan Wakil Ketua Umum PBNU, M Said Husni, yang menyebut bahwa masih banyak opsi lain yang juga menyatakan kesiapan, menunjukkan bahwa proses menuju Muktamar ke-35 masih dinamis. Namun, dengan dukungan dari salah satu kiai sepuh yang sangat dihormati dan respons positif dari Lirboyo, wacana ini menjadi kandidat terkuat yang akan dibahas dalam Konbes mendatang. Sejarah sepertinya akan berulang, namun dengan wajah dan tantangan baru bagi NU di tahun 2026.
QS: Adh-Dhariyat (51) : 49
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَDan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).
----------Al-Qur'an lengkap







