Bukan Hanya Cinta, Ini 2 Bekal Wajib Calon Pengantin Menurut Ahli UIN Sunan Kalijaga

SisiIslam.com, Jakarta – Cinta saja tak cukup. Calon pengantin butuh cara pandang tepat & keterampilan praktis. Ini pesan Profesor Alimatul Qibtiyah di Bimwin Kemenag. Simak kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.

Rasa cinta memang fondasi penting dalam membangun rumah tangga, namun ternyata tidak cukup hanya bermodalkan cinta. Calon pengantin (catin) perlu membekali diri dengan dua hal utama agar mampu menjalani kehidupan pernikahan secara sehat dan berkelanjutan.

Pesan ini disampaikan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah, instruktur Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Calon Pengantin sekaligus profesor Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam kegiatan yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di Jakarta, Selasa (21/4/2026), ia menegaskan bahwa bimbingan perkawinan saat ini harus melampaui sekadar penyampaian materi normatif.

“Bimbingan perkawinan tidak cukup hanya memberikan informasi. Yang lebih penting adalah mengubah cara pandang tentang keluarga sekaligus melatih keterampilan agar calon pengantin benar-benar mampu menjalani kehidupan perkawinan,” ujar Prof. Alimatul.

Dua Bekal Utama yang Harus Disiapkan

Menurutnya, ada dua bekal krusial yang wajib dimiliki setiap calon pengantin:

Baca Juga:  Titik Kritis Produk Pangan Impor: Halal Bukan Sekadar Khamr dan Babi

1. Cara Pandang yang Tepat tentang Keluarga

Prof. Alimatul menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam rumah tangga adalah perbedaan cara pandang dan ekspektasi. Relasi yang sehat dibangun melalui komunikasi dan kesalingan, bukan sekadar romantisme semu.

“Hal-hal yang dianggap romantis oleh seseorang belum tentu dirasakan sama oleh pasangannya. Karena itu, penting bagi suami-istri untuk saling memahami dan berkomunikasi,” katanya.

Ia mencontohkan, ekspresi kasih sayang tidak bisa disamaratakan. Setiap individu memiliki preferensi berbeda dalam menerima perhatian. Pasangan perlu belajar mengenali kebutuhan emosional satu sama lain.

2. Keterampilan Praktis Berumah Tangga

Pendekatan Bimwin kini berbasis pada kebutuhan nyata di lapangan. Materi yang disampaikan bukan sekadar teori, tetapi disusun berdasarkan data dan pengalaman empiris tentang dinamika keluarga di masyarakat.

Keluarga yang kuat, lanjutnya, dibangun di atas prinsip keadilan, keseimbangan, dan kesepakatan bersama. Relasi yang tidak kaku dan memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk berkembang dinilai lebih mampu menciptakan kebahagiaan jangka panjang.

Geser Pola Pikir: Jangan Fokus Hanya pada Resepsi

Prof. Alimatul juga menyoroti fenomena masyarakat yang cenderung lebih sibuk mempersiapkan pesta pernikahan mewah dibandingkan kesiapan menjalani kehidupan setelah akad.

“Kalau untuk pesta bisa disiapkan berbulan-bulan dengan biaya besar, seharusnya untuk kehidupan pernikahan yang berlangsung seumur hidup juga dipersiapkan dengan serius,” tegasnya.

Pendekatan berbasis keterampilan ini penting untuk menjawab perubahan karakter generasi muda yang lebih rasional dan kritis. Tanpa pembekalan yang memadai, keraguan terhadap pernikahan akan semakin meningkat.

Baca Juga:  6 Tips Mencegah Kebiasaan Buruk Belanja Kompulsif

Penguatan Fasilitator Bimwin

Bimtek Fasilitator Bimwin Calon Pengantin Angkatan I ini berlangsung pada 20–23 April 2026 di Jakarta dan diikuti oleh 100 peserta dari unsur penghulu, Penyuluh Agama Islam, serta perwakilan organisasi mitra.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas fasilitator dalam memberikan layanan bimbingan perkawinan secara lebih efektif.

“Melalui penguatan perspektif dan keterampilan tersebut, diharapkan para fasilitator mampu menghadirkan layanan Bimwin yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif, sehingga calon pengantin lebih siap membangun keluarga yang berkualitas,” tandas Prof. Alimatul.

Dengan demikian, pernikahan bukan lagi sekadar akad dan pesta, tetapi perjalanan panjang yang perlu dipersiapkan secara matang—dengan cinta sebagai pelengkap, bukan satu-satunya bekal. Wallahu a’lam. (Dik)

 

QS: Ta-Ha (20) : 6

لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرٰى

Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.

----------
Al-Qur'an lengkap