Daripada Uang Habis untuk Pesta Pernikahan Mewah, KDM Ajak Pasutri Muda Prioritaskan Beli Rumah
BANDUNG, Sisiislam.com – Gubernur Jabar ajak calon pengantin hindari pesta mewah dan pinjaman. Prioritaskan DP rumah atau cicil KUR perumahan bunga rendah. Berkah dunia akhirat. Simak berita selengkapnya di halaman Sisi Islam Media di bawah ini.
Pernikahan adalah momen sakral yang dinanti setiap muslim. Namun, tak jarang kemeriahan pesta justru menjadi beban finansial yang berat di awal bahtera rumah tangga. Menyikapi fenomena ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), melontarkan ajakan berani sekaligus menyejukkan: daripada uang habis untuk pesta pernikahan, lebih baik calon pasutri membeli rumah.
Ajakan ini disampaikan Dedi di Katapang, Kabupaten Bandung, Senin (13/4/2026) malam. Ia secara khusus menyasar generasi muda, terutama Gen Z, yang kerap terjebak gaya hidup konsumtif dan pinjaman demi menggelar pesta pernikahan mewah.
“Saya mengajak semuanya, ketika Anda menikah, daripada membuat pesta, lebih baik uangnya digunakan untuk uang muka perumahan. Pesta itu hanya menjadikan kita raja semalam. Kalau kita punya rumah, kita menjadi raja selamanya,” tegas Dedi.
Prinsip Sederhana dalam Nikah, Kaya Berkah
Dalam Islam sendiri, kesederhanaan dalam pernikahan sangat dianjurkan. Rasulullah SAW pun menganjurkan untuk mempermudah pernikahan, bukan mempersulitnya. Dedi Mulyadi pun menyelaraskan nilai ini dengan kebijakan yang aplikatif.
Ia mengingatkan agar pasangan muda tidak perlu berhutang untuk dekorasi, voorijder, atau seserahan berlebihan. Cukup dengan akad nikah di KUA pada pagi hari, lalu langsung menuju rumah sendiri—meskipun masih dicicil.
“Tidak perlu ada pesta panjang, tidak perlu seserahan yang berlebihan hingga harus meminjam uang. Lebih baik pagi akad nikah di KUA, siang sudah pulang ke rumah sendiri meskipun masih mencicil,” pesannya.
Solusi Nyata: KUR Perumahan dan Aplikasi Imah Aing
Pemerintah tidak hanya memberikan imbauan, tetapi juga menyediakan instrumen keuangan yang ramah kantong. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menegaskan bahwa program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan menjadi solusi konkret untuk menghindarkan masyarakat dari jeratan rentenir.
Berikut keunggulan KUR Perumahan:
- Plafon pinjaman hingga Rp100 juta tanpa agunan
- Bunga ringan 0,5% per bulan (sekitar 6% per tahun)
- Bebas dari praktik rentenir yang bunganya bisa mencapai 20% per bulan.
“Kalau bunga rentenir bisa 20 persen per bulan, berarti hampir 200 persen setahun. KUR ini hanya 0,5 persen per bulan. Berikan kemudahan ini supaya rakyat tidak lagi terjerat rentenir,” ujar Maruarar.
Selain itu, Pemprov Jabar akan meluncurkan aplikasi Imah Aing pada pekan depan. Aplikasi ini memudahkan masyarakat mengakses usulan perumahan subsidi secara langsung dan transparan.
Ekonomi Berputar, 300 Ribu Pekerja Terserap
Ajakan membeli rumah ternyata tidak hanya baik bagi ketahanan keluarga, tetapi juga bagi ekonomi umat. Sepanjang tahun 2025, realisasi rumah subsidi di Jawa Barat mencapai 62.591 unit—terbesar se-Indonesia—dengan perputaran uang sekitar Rp8 triliun.
Setiap unit rumah subsidi melibatkan 5 tenaga kerja langsung, sehingga total ada sekitar 300 ribu pekerja yang terserap di sektor ini. Mulai dari tukang, sopir truk, toko material, hingga industri bahan bangunan yang mencakup 180 jenis material.
Hunian Vertikal di Kawasan Industri, Kurangi Kemacetan
Pemprov Jabar juga menginisiasi pembangunan apartemen sederhana di Bekasi, Depok, Bogor, dan Bandung. Setiap kawasan industri didorong menyediakan hunian bagi karyawannya. Langkah ini penting karena lahan sawah dan kebun semakin terbatas, sekaligus menjadi solusi mengurangi kemacetan akibat mobilisasi kerja.
Pesan Utama untuk Pasutri Muda Muslim
Ada tiga pesan utama dari kebijakan ini untuk pembaca Sisiislam.com:
- Jadikan pernikahan sebagai ibadah yang berkah, bukan ajang pamer yang berujung utang.
- Prioritaskan kepemilikan rumah sebagai benteng ketahanan keluarga, karena rumah adalah investasi akhirat dan dunia.
- Manfaatkan program resmi pemerintah seperti KUR Perumahan dan rumah subsidi, karena lebih aman dan syar’i dibandingkan pinjaman rentenir.
Seperti kata Dedi Mulyadi, menjadi raja selamanya dengan memiliki rumah itu lebih baik daripada menjadi raja semalam karena pesta. Apalagi bagi keluarga muslim, rumah adalah tempat tegaknya salat, tumbuhnya generasi saleh, dan investasi pahala jariyah.
Mari kita renungkan, sudahkah kita mempersiapkan mahligai rumah tangga dengan fondasi yang kokoh, bukan sekadar gemerlap satu malam?
Wallahu a’lam. (Dik)
QS: Yusuf (12) : 80
فَلَمَّا اسْتَا۟يْـَٔسُوْا مِنْهُ خَلَصُوْا نَجِيًّاۗ قَالَ كَبِيْرُهُمْ اَلَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنَّ اَبَاكُمْ قَدْ اَخَذَ عَلَيْكُمْ مَّوْثِقًا مِّنَ اللّٰهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُّمْ فِيْ يُوْسُفَ فَلَنْ اَبْرَحَ الْاَرْضَ حَتّٰى يَأْذَنَ لِيْٓ اَبِيْٓ اَوْ يَحْكُمَ اللّٰهُ لِيْۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحٰكِمِيْنَMaka ketika mereka berputus asa darinya (putusan Yusuf) mereka menyendiri (sambil berunding) dengan berbisik-bisik. Yang tertua di antara mereka berkata, “Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan (nama) Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf? Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri ini (Mesir), sampai ayahku mengizinkan (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang terbaik.”
----------Al-Qur'an lengkap







