Tokoh Muhammadiyah Dorong Kampus RI Belajar Teknologi Persenjataan ke Iran, Dorong Kerja Sama Strategis

Jakarta [Sisi Islam Media] – Prof Din Syamsuddin ajak perguruan tinggi Indonesia jalin kerja sama teknologi persenjataan dengan Iran. Manfaatkan kejayaan peradaban Islam Persia. Simak informasi selngkapnya di halaman sisiislam.com ini.

Sebuah gagasan segar dan strategis dilontarkan oleh cendekiawan Muslim terkemuka, Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, MA. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 itu mendorong seluruh perguruan tinggi di Tanah Air untuk serius menjajaki kerja sama dengan Iran, khususnya dalam bidang yang selama ini jarang tersentuh: teknologi persenjataan.

Wacana ini disampaikan langsung oleh Guru Besar Ilmu Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut usai bertemu dengan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, HE Mohammad Boroujerdi, di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada Jumat (3/4/2026).

Menurut Din, selama ini hubungan bilateral Indonesia dan Iran lebih banyak berkutat pada sektor pendidikan dan ekonomi. Padahal, menurutnya, sudah saatnya kedua negara Muslim terbesar ini merambah kerja sama di bidang teknologi strategis yang krusial di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

“Kita ingin belajar persenjataan, teknologi persenjataan (dari Iran),” ujar Din Syamsuddin dengan tegas.

Ia mengungkapkan bahwa fondasi awal sebenarnya sudah mulai terbangun. Pada tahun lalu, sekitar 30 rektor dari Iran telah bertemu dengan sejumlah pimpinan perguruan tinggi di Indonesia. Namun, potensi besar itu dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga:  The Dog House Megaways Pokie Review 2026 RTP, Features & More

“Makanya, kita usulkan ada penambahan bidang baru yang lebih spesifik dan strategis,” imbuhnya.

Meneladani Keemasan Peradaban Islam Persia

Lebih dari sekadar transfer teknologi, Din Syamsuddin mengajak para akademisi dan generasi muda Indonesia untuk melihat jejak peradaban besar Islam Persia. Ia mengingatkan bahwa Iran memiliki sumbangsih luar biasa dalam sejarah keilmuan umat manusia, terutama pada masa keemasan Islam sekitar tahun 650–1250 M.

“Muslim Persia dalam lintasan sejarah berperan dan berjasa di dalam mengembangkan dan memajukan peradaban Islam di abad-abad pertengahan. Sekitar 70 persen dari filsuf dan ilmuwan Muslim yang mengembangkan ilmu pengetahuan itu adalah Muslim-Muslim Persia,” paparnya.

Sebagai ilustrasi, Din mencontohkan beberapa tokoh yang sangat familiar di telinga umat Islam Indonesia. Mulai dari Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali yang lahir di Tus, Iran, hingga para perawi hadits terkemuka seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim yang juga berasal dari kawasan Persia.

“Jadi, belajar dari Iran itu bukan hal asing. Kita sedang kembali menyambung mata rantai kejayaan peradaban Islam yang pernah berpusat di sana,” tegas Din.

Dengan kolaborasi ini, ia berharap kampus-kampus di Indonesia tidak hanya menjadi penikmat teknologi, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian alutsista di masa depan. Sebuah langkah berani yang dinilai sejalan dengan semangat meneladani peradaban Islam sekaligus menjaga kedaulatan bangsa. Wallahu a’lam.

QS: Al-Kahf (18) : 82

وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا ۚفَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًاۗ

. Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.”

----------
Al-Qur'an lengkap