Mengapa Muharram Disebut Bulan Anak Yatim? Ini Penjelasan Resmi Kemenag RI
Santunan anak yatim [gambar ilustrasi]

Mengapa Muharram Disebut Bulan Anak Yatim? Ini Penjelasan Resmi Kemenag RI

SISIISLAM.COM, JAKARTA – Mengapa Muharram disebut bulan anak yatim? Simak penjelasan resmi Kemenag RI tentang tradisi, dalil, dan hikmah menyantuni anak yatim di bulan Muharram hanya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.


Setiap memasuki tahun baru Hijriyah, umat Islam Indonesia akrab dengan istilah bulan anak yatim yang melekat pada bulan Muharram. Tradisi santunan, memberi makan, hingga pesta untuk anak yatim marak digelar, terutama menjelang 10 Muharram atau Hari Asyura. Namun, benarkah secara agama Muharram disebut sebagai bulan anak yatim?

Direktorat Jenderal Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag) RI memberikan penjelasan resmi. Prof. Waryono Abdul Ghofur, selaku Dirjen, menegaskan bahwa penyebutan Mengapa Muharram disebut bulan anak yatim tidak memiliki dalil spesifik dalam Al-Qur’an maupun hadis.

“Kalau dicari dalilnya, sepengetahuan saya tidak ada,” ujar Prof Waryono dalam acara Public Expose Aksi Zakat dan Wakaf di Kantor Kemenag, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Tradisi dan Kaitannya dengan Peristiwa Karbala

Menurut Prof. Waryono, pemahaman bahwa Muharram adalah bulan anak yatim lebih merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat. Ia mengaitkan pendapat ini dengan peristiwa Karbala yang sangat lekat dengan sejarah Syiah, di mana cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali, wafat dan meninggalkan anak-anak yatim.

Baca Juga:  Transformasi Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi Umat, Ini Hasil Muktamar XXI Mathla’ul Anwar

“Tapi ada juga yang berpendapat, ini bagian dari apa yang pernah dilakukan orang Syiah. Karena bulan Muharram itu kan Karbala. Husein kan yatim. Menurut saya, ini sesuatu yang baik, jadi tidak salah juga kalau dipahami seperti itu,” jelasnya.

Meski berasal dari tradisi, Waryono menilai praktik tersebut sebagai amal mulia. Penjelasan Kemenag tentang Muharram ini justru menekankan bahwa tidak ada larangan untuk menjadikan momen tersebut sebagai ajang kepedulian.

Tradisi “Lebaran Anak Yatim” di Nusantara

Di berbagai daerah, tradisi ini masih sangat kuat. Bahkan, saat melakukan rapat daring dengan Kantor Wilayah Kemenag, Prof. Waryono mendapati masyarakat Sulawesi Barat rutin menggelar pesta untuk anak yatim di bulan Muharram.

“Bahkan kami kemarin baru Zoom dengan Kanwil ya, itu di Sulawesi Barat, itu sudah, iya memang Muharram itu mengadakan pesta untuk anak yatim,” kata dia.

Dalam budaya Indonesia, tradisi 10 Muharram lebaran anak yatim atau Idul Yatama sudah seperti hari raya. Umat Islam berbondong memberikan santunan makanan, pakaian, dan bantuan lainnya. Para ulama menilai tradisi ini sejalan dengan ajaran Islam tentang kasih sayang.

Hikmah dan Dalil Memuliakan Anak Yatim

Mengapa Muharram disebut bulan anak yatim meski tanpa dalil khusus? Karena bulan ini adalah salah satu dari empat bulan mulia (Asyhurul Hurum). Momentum mulia ini tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial.

Baca Juga:  PMII Jabar Deklarasikan Dasasila Pergerakan, Tegaskan Keadilan Global dari Spirit Bandung

Rasulullah SAW sendiri sangat memuliakan anak yatim. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda:

“Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan seperti ini di surga,” seraya merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Karena itu, berbagi kepada anak yatim di bulan Muharram adalah bentuk meneladani akhlak Rasulullah. Selain menghadirkan kebahagiaan, tradisi ini memperkuat solidaritas sosial.

Kesimpulan: Tidak ada dalil yang mewajibkan, namun bulan anak yatim adalah tradisi baik yang tak perlu diperdebatkan. Yang terpenting, umat Islam terus menebar kebaikan dan memuliakan anak yatim kapan pun, terutama di bulan yang mulia ini. Wallahu a’lam. [*sod]

QS: Al-Isra (17) : 107

قُلْ اٰمِنُوْا بِهٖٓ اَوْ لَا تُؤْمِنُوْاۗ اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ

Katakanlah (Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur'an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur'an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud,”

----------
Al-Qur'an lengkap