Krisis Selat Hormuz Meluas: Somalia Resmi Ancam Blokade Kapal Israel di Bab al-Mandeb
Somalia resmi ancam blokade kapal Israel di Bab al-Mandeb dampak krisis selat Hormuz

Krisis Selat Hormuz Meluas: Somalia Resmi Ancam Blokade Kapal Israel di Bab al-Mandeb

Mogadishu, SisiIslam.com – Somalia resmi ancam blokade kapal Israel di Bab al-Mandeb sebagai balasan pengakuan Israel atas Somaliland. Krisis Selat Hormuz kian meluas. Baca kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media.

Krisis geopolitik di jalur perairan Timur Tengah kian meluas. Setelah ketegangan memanas di Selat Hormuz dan Laut Merah akibat aksi kelompok Houthi, kini Somalia secara resmi mengancam akan memblokade kapal-kapal Israel yang melintasi Selat Bab al-Mandeb, persimpangan strategis antara Terusan Suez dan Samudera Hindia.

Langkah berani ini diambil sebagai respons langsung atas pengakuan Israel terhadap kemerdekaan wilayah separatis Somaliland, yang secara hukum masih merupakan bagian integral dari Somalia.

Alasan di Balik Ancaman Somalia: Balasan atas Dukungan Israel ke Somaliland

Berdasarkan laporan The New Arab yang dikutip redaksi pada Jumat (24/5), pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Duta Besar Somalia untuk Ethiopia dan Uni Afrika, Abdullah Warfa.

“Pemerintah Mogadishu resmi melarang lewatnya kapal-kapal Israel di Teluk Aden dan pintu masuk menuju Selat Bab al-Mandeb,” ujar Warfa. Keputusan ini merupakan konsekuensi langsung dari penunjukan duta besar Israel untuk wilayah Somaliland yang memisahkan diri dari Somalia.

Baca Juga:  Situasi Memburuk karena Pembakaran Alquran di Denmark dan Swedia

Bagi Somalia, tindakan Israel dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan wilayah mereka, sehingga pembalasan melalui tekanan maritim menjadi opsi yang ditempuh.

Kekuatan Militer Kecil, tetapi Dampaknya Besar: Skenario Perang Asimetris

Para pengamat militer mencatat bahwa meskipun kekuatan angkatan laut Somalia relatif kecil dibandingkan negara lain, ancaman ini tidak bisa dianggap remeh, terutama setelah melihat taktik yang digunakan kelompok Houthi di Yaman.

Ekonom Yaman, Rashid al-Haddad, menjelaskan kepada The New Arab bahwa untuk mengganggu jalur pelayaran di Bab al-Mandeb, Somalia tidak perlu memiliki kapal perang besar.

Drone Murah, Kerugian Miliaran Dolar

“Seperti yang terjadi di Teluk, Somalia bisa menggunakan senjata murah seperti drone. Drone dapat diproduksi dengan harga relatif rendah, namun mampu menimbulkan kerugian hingga jutaan dolar,” jelas al-Haddad.

Somalia diperkirakan akan mengkomunikasikan keputusan ini kepada negara-negara sahabat untuk mendapatkan dukungan tidak resmi, meskipun secara teknis, Yaman memiliki akses lebih besar atas selat tersebut karena posisi geografisnya.

Potensi Aliansi Baru: Somalia dan Houthi Bersatu Melawan Israel?

Yang paling mengkhawatirkan analis internasional adalah potensi aliansi antara pemerintah Somalia dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Sebelumnya, Houthi telah memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal AS dan Israel di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza yang sedang dilanda genosida.

Jika Israel atau AS membalas dengan menargetkan Somalia atau berupaya memiliterisasi Laut Merah, al-Haddad menyebut bahwa aliansi antara Houthi dan Somalia “tidak dapat dikesampingkan.”

Baca Juga:  Mojtaba Khamenei Perintahkan Status Selat Hormuz Tak Akan Kembali Seperti Sebelum Perang, Iran Terapkan Tarif Tol Kapal

Pernyataan ini selaras dengan cuitan pejabat senior Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, di media sosial X: “Setiap kehadiran Israel di Somalia akan menjadi target kami. Kami sudah siap melakukan persiapan.”

Bab al-Mandeb: Arteri Perdagangan Dunia yang Rawan Tersumbat

Selat Bab al-Mandeb bukanlah selat biasa. Dengan lebar hanya 29 kilometer di titik tersempitnya, selat ini merupakan jalur vital bagi perdagangan global, menghubungkan Asia dan Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez.

Dampak Ekonomi yang Pernah Terjadi (2023-2024)

Sekitar 12 persen perdagangan global melewati selat ini. Saat Houthi memulai blokade pada 2023, konsekuensinya langsung terasa:

  1. Rute Memanjang: Kapal dipaksa memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan, menambah waktu pengiriman 10 hingga 14 hari.
  2. Biaya Melonjak: Perusahaan pelayaran mengenakan biaya tambahan USD 1.500 – 3.300 per kontainer, bahkan mencapai USD 4.000 untuk pengiriman tertentu.
  3. Guncangan Energi: Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), aliran minyak melalui Bab al-Mandeb turun drastis dari 8,7 juta barel per hari (2023) menjadi hanya 4 juta barel per hari di tahun 2024 akibat serangan dan pengalihan rute.

Risiko Eskalasi: Arab Saudi Juga Terancam?

Para ahli memperingatkan bahwa jika konflik ini meluas hingga menargetkan infrastruktur minyak, Arab Saudi sebagai eksportir utama melalui pelabuhan Yanbu bisa menjadi sasaran tidak langsung.

Salvatore Mercogliano, profesor di Akademi Kelautan Pedagang AS, mengatakan kepada Alhurra, “Setiap serangan di selat ini dapat secara efektif diarahkan ke Arab Saudi.”

Baca Juga:  Pengentasan Kemiskinan di Perbatasan, Baznas Gandeng BNPP dan TNI

Jika Houthi mengambil langkah lebih jauh, respons tidak hanya datang dari AS dan Israel, tetapi Arab Saudi sendiri mungkin akan terpaksa merespons untuk melindungi kepentingan ekonominya.

Kesimpulan Sisi Islam: Solidaritas Umat atau Perang Ekonomi?

Ancaman Somalia ini menjadi babak baru dalam krisis Selat Hormuz dan Laut Merah yang sudah lebih dulu memanas. Bagi dunia Islam, langkah Somalia bisa dilihat sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dan kemandirian melawan pengakuan Israel atas wilayah separatis. Namun bagi pasar global, ancaman ini adalah alarm akan krisis rantai pasok baru yang bisa lebih parah dari krisis 2023.[*Sod]

Redaksi sisiislam.com akan terus memantau perkembangan selanjutnya, termasuk apakah blokade ini akan segera diimplementasikan dan bagaimana respons militer Israel serta AS di kawasan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

QS: Al-Mutaffifin (83) : 2

الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ

(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan,

----------
Al-Qur'an lengkap