Menyelami Pesona Arab Hall di London: Perpaduan Seni Islam dan Victoria yang Menginspirasi
SISIISLAM.COM, Dubai – Arab Hall London rayakan 100 tahun museum dengan pameran seni Islam kontemporer. Menelusuri jejak peradaban Timur Tengah di jantung Inggris. Simak informasi selengkapnya di laman SISI ISLAM MEDIA.
Di tengah hiruk-pikuk London, terdapat sebuah ruangan yang menyimpan keindahan silang budaya antara dunia Islam dan Eropa Victoria. Namanya Arab Hall, bagian dari Leighton House, yang baru saja merayakan 100 tahun sebagai museum publik dengan menghadirkan pameran istimewa bertajuk “The Arab Hall: Past and Present.”
Bagi para pecinta wisata Islami di London, Arab Hall adalah destinasi tersembunyi yang memukau. Dibangun pada 1881 oleh seniman Victoria Frederic Leighton, ruangan ini terinspirasi dari perjalanannya yang luas ke Afrika Utara dan Timur Tengah. Ubin-ubin rumit dari Damaskus, Turki, dan Iran menghiasi dindingnya, memadukan tradisi kerajinan Islam, Mediterania, dan Victoria dalam harmoni yang kaya.
Menelusuri Jejak Leighton dan Koleksi Islamnya
Kurator senior Daniel Robbins menjelaskan bahwa pameran ini adalah pertama kalinya Arab Hall dieksplorasi secara mendalam. Tidak hanya memajang artefak, pameran ini menghadirkan instalasi seni kontemporer, film pendek, serta riset akademik terbaru.
“Penelitian baru oleh Dr. Melanie Gibson mengungkap asal-usul ruangan ini dan menelusuri perjalanan Leighton, menunjukkan bagaimana pengalaman itu membentuk keterlibatannya dengan seni Islam,” ujar Robbins.
Gibson menemukan bahwa Leighton secara khusus memburu ubin-ubin kuno di Damaskus pada tahun 1873. Bahkan, penelitian ini untuk pertama kalinya melacak asal usul setiap ubin dan prasasti di Arab Hall ke lokasi aslinya.
Tiga Karya Seniman Kontemporer: Ketika Kaligrafi Hidup di Atas Air
Yang membuat pameran ini unik adalah dialog antara masa lalu dan masa kini melalui tiga komisi seni spesifik lokasi:
- Ramzi Mallat – Menghadirkan ribuan jimat anti-sihir biru Suriah yang menggantung dari lampu gantung pusat, membentuk “kanopi perisai mata yang waspada” terinspirasi dari helm Kesultanan Utsmaniyah abad pertengahan.
- Kamilah Ahmed – Membuat lengkungan tekstil bordir campuran yang membingkai air mancur di Arab Hall, terinspirasi dari ubin Damaskus, pola Iznik, kaca patri, mozaik emas, hingga mashrabiya.
- Soraya Syed – Menampilkan karya animasi kaligrafi yang diproyeksikan ke permukaan air. Ikan-ikan muncul dan larut menjadi aksara Arab, menjadikan kaligrafi bukan sekadar hiasan, tetapi kekuatan yang hidup.
Film ‘When the Tiles Spoke’: Suara Batu dari Suriah
Sutradara asal Suriah, Soudade Kaadan, menyumbangkan film pendek berjudul “When the Tiles Spoke” yang menggunakan realisme magis dan pendekatan dokumenter. Film ini menghidupkan ubin-ubin antik dengan pengisi suara terkenal seperti Khalid Abdalla (The Crown), Souad Faress (Game of Thrones), dan Leem Lubany (Fauda).
“Film ini memungkinkan eksplorasi naratif dan imajinatif dari sejarah ruangan ini, mendorong pengunjung untuk melihat lebih dekat setiap elemen di Arab Hall,” kata Robbins.
Refleksi untuk Wisatawan Muslim
Bagi travel Muslim ke Inggris, Leighton House dan Arab Hall menawarkan lebih dari sekadar keindahan arsitektur. Ini adalah ruang untuk merenungkan bagaimana peradaban Islam pernah menginspirasi Eropa, dan bagaimana seni kontemporer dari dunia Islam kini kembali memberi makna baru pada ruang bersejarah tersebut.
Robbins berharap pengunjung tidak hanya melihat Arab Hall sebagai interior bersejarah, tetapi sebagai tempat yang terus membangkitkan rasa ingin tahu, refleksi, dan diskusi tentang referensi budaya serta resonansinya di dunia saat ini.
“Bagi banyak orang, memasuki Arab Hall bisa terasa mengejutkan dan mengharukan. Kami berharap ini mendorong pengunjung untuk merenungkan referensi budaya, sejarah berlapis, dan resonansinya yang lebih luas saat ini,” tutup Robbins.
Pameran “The Arab Hall: Past and Present” berlangsung di Leighton House, London. Bagi Anda yang berencana liburan ke Inggris, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan sendiri keajaiban silang budaya yang langka ini.(*Izah)
Wallahu a’lam bish-shawab.
QS: Al-An'am (6) : 136
وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ مِمَّا ذَرَاَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْاَنْعَامِ نَصِيْبًا فَقَالُوْا هٰذَا لِلّٰهِ بِزَعْمِهِمْ وَهٰذَا لِشُرَكَاۤىِٕنَاۚ فَمَا كَانَ لِشُرَكَاۤىِٕهِمْ فَلَا يَصِلُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَمَا كَانَ لِلّٰهِ فَهُوَ يَصِلُ اِلٰى شُرَكَاۤىِٕهِمْۗ سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَDan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan (bagian) untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.
----------Al-Qur'an lengkap





