
Nada Malki dan Atheera: Mengubah Lukisan Klasik Menjadi tas Kayu Handcrafted yang Ramah Muslimah
Sisi Islam, JEDDAH – Nada Malki dan Atheera: tas kayu handcrafted dari lukisan klasik. Perpaduan seni Islami dengan gaya muslimah modern yang elegan dan penuh makna. Simak kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.
Di tengah gempuran mode fast fashion, muncul sebuah ide segar dari Saudi Arabia yang menggabungkan apresiasi seni klasik dengan fungsionalitas aksesoris wanita. Nada Malki, seorang pengusaha muda asal Jeddah, meluncurkan Atheera: sebuah brand yang mengubah lukisan-lukisan klasik dunia menjadi tas kayu handcrafted yang elegan dan sarat makna.
Dari Kecintaan pada Seni hingga Lahirnya Atheera
Bagi Nada Malki, seni bukan sekadar hobi. Dalam wawancaranya dengan Arab News, ia mengungkapkan bahwa meskipun latar belakangnya adalah komunikasi korporat yang penuh struktur dan disiplin, jiwanya selalu terpaut pada kanvas dan literasi.
“Seni selalu menjadi tempat di mana saya merasa paling terhubung dengan diri saya sendiri,” ujar Nada.
Awalnya, ia melukis dan membaca sebagai pelarian dari rutinitas profesional. Namun seiring waktu, keterpisahan itu sulit dipertahankan. Seni berubah dari sekadar minat paralel menjadi panggilan batin yang terus-menerus. Dari situlah Atheera lahir—sebagai jawaban atas pertanyaan besarnya: mengapa seni harus diam hanya di galeri dan buku, padahal ia bisa menjadi bagian dari keseharian kita?
Inspirasi dari Rijksmuseum Amsterdam
Momen penting dalam perjalanan Nada terjadi saat ia tinggal di Amsterdam. Setiap pagi, ia mengunjungi Rijksmuseum dan selalu terpaku pada satu lukisan kecil karya Carel Fabritius: seekor burung terikat pada tempat bertenggernya, namun memancarkan ketenangan dan martabat yang kuat.
Baginya, lukisan itu bukan sekadar karya seni, melainkan refleksi tentang ketahanan, kekuatan diam, dan koneksi emosional. Saat meninggalkan Amsterdam, ia merasakan kehilangan yang tak terduga. Keinginan untuk “membawa pulang” lukisan itu pun menjadi cikal bakal Atheera.
Makna Nama Atheera: Jejak, Kemuliaan, dan Peradaban
Nama Atheera bukanlah pilihan acak. Ia berakar dari kata Arab “athar” (أثر) yang berarti jejak atau bekas—merujuk pada kesan mendalam yang ditinggalkan seni. Juga dekat dengan “atheer” (أثير) yang bermakna sesuatu yang luhur dan dicintai. Ditambah asosiasi longgar dengan Athena—kota pusat peradaban klasik. Nama ini secara utuh menjadikan Atheera sebagai jembatan antara budaya, memori, dan ekspresi artistik.
Tas Kayu Mahoni: Seni yang Bisa Dibawa ke Mana Saja
Yang membedakan Atheera dari brand aksesoris lain adalah medianya. Nada Malki memilih kayu mahoni buatan Saudi sebagai bahan utama tasnya. Kayu dipilih karena memberi kesan permanen, hangat, dan setiap seratnya unik—tak ada dua produk yang sama.
Setiap tas dilukis tangan oleh seniman profesional dengan cat minyak premium, mereproduksi lebih dari 50 karya seni klasik. Detail kuningan yang terinspirasi dari lampu museum antik membingkai setiap “lukisan mini” ini, menciptakan ilusi bahwa karya seni tersebut tetap bercahaya dalam ruangnya sendiri.
“Setiap tas tangan dilukis tangan oleh seniman menggunakan cat minyak premium, yang terinspirasi dari koleksi lebih dari 50 karya seni klasik. Tidak ada dua tas yang identik,” jelas Nada.
Koleksi yang Tersusun Rapi: Dari Van Gogh hingga Turathiyah
Karya-karya Atheera dibagi ke dalam beberapa koleksi tematik:
- The Gallerist: Menampilkan lukisan Van Gogh, Monet, dan maestro Eropa lainnya.
- The Turathiyah: Koleksi yang menyasar “pengagum cakrawala gurun, desa yang dipenuhi pohon palem, kuda yang berlari kencang, serta keindahan eksotis Arabia.”
Dengan ini, Atheera tidak hanya berbicara tentang seni Barat, tetapi juga membawa napas lokal Islami dan Timur Tengah yang kuat.
Tantangan di Balik Kemewahan Handcrafted
Nada Malki mengakui bahwa proses kreatif Atheera penuh tantangan. Ia kehilangan hitungan berapa banyak sampel yang dibuat sebelum mencapai wadah sempurna.
“Mengerjakan seni lukis minyak tangan di atas kayu jauh lebih kompleks daripada manufaktur standar, karena setiap tahap, dari melukis hingga pengeringan hingga perakitan, membutuhkan waktu dan ketelitian,” jelasnya.
Tantangan lain adalah memposisikan Atheera di pasar. Brand ini tidak murni fashion mewah, juga tidak murni seni rupa. Komunikasi identitas ini memerlukan storytelling dan branding yang sangat hati-hati.
Muslimah dan Seni yang Hidup Sehari-hari
Bagi pembaca Sisi Islam Media, karya Nada Malki ini menarik karena selaras dengan nilai-nilai kesederhanaan yang bermartabat dan keindahan yang membawa kebaikan. Sebuah tas yang membawa lukisan klasik bukan sekadar aksesori, tetapi pengingat akan ketahanan, ketenangan, dan jejak peradaban—nilai yang juga dijunjung dalam ajaran Islam untuk menghargai keindahan sebagai bagian dari iman.
Atheera membuktikan bahwa seni bisa “hidup” dalam genggaman seorang muslimah modern, tanpa kehilangan esensi spiritual dan artistiknya. [*dik]
QS: Ash-Shu'ara (26) : 17
اَنْ اَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗlepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami.”
----------Al-Qur'an lengkap




