Hadits Shahih Bukhari: Jika Allah Menghendaki Kebaikan pada Seseorang, Maka Ia Akan Diuji
Tanda Allah menghendaki kebaikan pada seseorang adalah dengan memberinya ujian. [Gambar ilustrasi]

Hadits Shahih Bukhari: Jika Allah Menghendaki Kebaikan pada Seseorang, Maka Ia Akan Diuji

SisiIslam.com – Hadits shahih dari Abu Hurairah: tanda Allah menghendaki kebaikan adalah dengan menguji hamba-Nya. Penjelasan lengkap sanad, makna, dan hikmah. Simak dan ikuti kajian hadits selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini.


Dalam pandangan Islam, ujian dan musibah tidak selalu berarti kemurkaan Allah. Justru, sebuah hadits shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengajarkan sebuah prinsip menakjubkan: tanda Allah menghendaki kebaikan pada seseorang adalah dengan memberinya ujian.

Artikel ini akan mengupas tuntas sanad, teks Arab lengkap dengan harakat, transliterasi, terjemahan, serta penjelasan mendalam tentang makna hadits tentang kebaikan dan ujian ini.

Teks Hadits Lengkap dengan Sanad dan Perawi

Teks Arab (dengan harakat):

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Transliterasi:
Man yuridillāhu bihī khayran yushib minhu

Arti:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Dia akan mengujinya (dengan musibah).”

Sanad dan Perawi:

  • Perawi: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  • Muhaddits (penghimpun): Imam Al-Bukhari
  • Sumber: Shahih Al-Bukhari
  • Nomor hadits / halaman: 5645
  • Kesimpulan hukum: Shahih (diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Al-Bukhari, tidak diriwayatkan oleh Muslim)
Baca Juga:  Jangan Menjual di Atas Jualan Saudaramu: 5 Larangan Rasulullah dalam Berbisnis dan Berumah Tangga

Takhrij: Hadits ini termasuk afrad Al-Bukhari (keistimewaan Bukhari, tidak diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan Ragam Bacaan “Yushib / Yushab”

Para ulama meriwayatkan kata يُصِبْ dalam dua bacaan yang sama-sama shahih:

BacaanCara BacaMakna
Yushib (يُصِبْ – kasrah ‘ain)Fi’il Mudhori’ dengan makna aktifAllah menimpakan musibah kepada hamba-Nya sebagai ujian
Yushab (يُصَبْ – fathah ‘ain)Fi’il Mudhori’ majhul (pasif)Hamba itu “dikenai” musibah tanpa menyebut pelaku langsung, sebagai bentuk adab kepada Allah

Allah berfirman dalam Surah Asy-Syu’ara’ ayat 80, lisan Nabi Ibrahim:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Transliterasi:
Wa idhā maridhtu fahuwa yasyfīn

Arti:
“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku.”

Ibrahim tidak menyandarkan penyakit kepada Allah, namun menyandarkan kesembuhan kepada-Nya sebagai bentuk adab.

Makna “Musibah” dalam Hadits Ini

Musibah adalah segala sesuatu yang tidak disukai oleh jiwa, baik berupa sakit, kehilangan harta, kematian orang tercinta, atau kegagalan. Mengapa musibah disebut sebagai kebaikan?

Karena musibah menjadi:

  1. Penghapus dosa
    Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, atau kesedihan, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah hapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari)
  2. Peningkat derajat
    Musibah yang disikapi sabar akan mengangkat derajat hamba di surga.
  3. Pengingat kelemahan diri
    Manusia tersadar bahwa ia adalah hamba yang lemah dan kembali bergantung kepada Allah.

Dalil Al-Qur’an: Balasan Setiap Kebaikan dan Keburukan

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa’ ayat 123:

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

Transliterasi:
Man ya‘mal sū’an yujza bih

Arti:
“Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas dengan kejahatan itu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin akan mendapat balasan atas keburukannya, baik di dunia (melalui musibah) maupun di akhirat. Jika ia disegerakan balasannya di dunia berupa musibah, maka itu lebih baik karena menjadi kafarah (penebus dosa) dan tidak perlu dihisab di akhirat.

Baca Juga:  Rasulullah Bersabda: Ini dari Nikmat yang Akan Kalian Tanyai – Syarah Hadits Jabar

Hikmah dan Sikap Muslim saat Diuji

Sikap yang KeliruSikap yang Benar
Berputus asa, marah, mengeluhBersabar, husnuzhan kepada Allah
Menganggap ujian sebagai kutukanMenganggap ujian sebagai bentuk cinta Allah
Meninggalkan ibadahMemperbanyak doa dan istighfar

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam “Kitab Al-Mardha” (Bab Orang Sakit) sebagai isyarat bahwa sakit adalah bagian dari kebaikan yang Allah kehendaki bagi hamba-Nya.

Kesimpulan: Ujian Adalah Rahasia Kebaikan

Hadits man yuridillahu bihi khayran yushib minhu mengajarkan bahwa tanda Allah menghendaki kebaikan pada seseorang adalah dengan mengujinya. Ujian bukanlah bentuk kebencian, melainkan bukti kasih sayang yang tersembunyi di balik takdir pahit sekalipun.

Maka, ketika musibah datang, janganlah bersedih berlebihan. Bisa jadi itu adalah pintu menuju derajat tinggi di surga dan penghapusan dosa-dosa yang lalu.

 

Penulis: Sodikin Masrukin
Editor: Redaksi Sisi Islam Media

QS: An-Nisa (4) : 61

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ رَاَيْتَ الْمُنٰفِقِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْكَ صُدُوْدًاۚ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu.

----------
Al-Qur'an lengkap