Keutamaan Shalat 5 Waktu: Solusi Spiritual Muslim Sibuk & Penghapus Dosa
Keutamaan Shalat 5 Waktu: Solusi Spiritual Muslim Sibuk & Penghapus Dosa [Ilustrasi]

Keutamaan Shalat 5 Waktu: Solusi Spiritual Muslim Sibuk & Penghapus Dosa

Sisi Islam Media – Temukan keutamaan shalat yang luar biasa. Meski sibuk, shalat tetap wajib. Baca keutamaannya sebagai penghapus dosa dan tiang agama yang tak boleh ditinggalkan.

Di era serba cepat ini, banyak Muslim terjebak dalam kesibukan duniawi hingga melalaikan shalat. Padahal, shalat adalah tiang agama yang menjadi fondasi keimanan. Simak keutamaan shalat yang akan mengubah pandangan Anda tentang prioritas hidup.

Kesibukan kerja, deadline yang menumpuk, meeting bertubi-tubi, dan aktivitas padat seringkali menjadi alasan untuk menunda-nunda bahkan meninggalkan shalat. Fenomena ini semakin mengkhawatirkan di kalangan Muslim modern. Namun, sadarilah bahwa tidak ada kesibukan yang lebih penting daripada memenuhi panggilan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penekanan khusus tentang kedudukan shalat dalam Islam. Mari kita renungkan bersama keutamaan-keutamaan shalat yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits.

1. Shalat: Fondasi Utama Bangunan Islam

Islam dibangun di atas lima pilar utama, dan shalat menempati posisi kedua setelah syahadat. Ini menunjukkan betapa fundamentalnya peran shalat dalam keislaman seseorang.

Hadits Riwayat:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ”

Transliterasi:
“Buniyal-Islāmu ‘alā khamsin: syahādati an lā ilāha illallāhu wa anna Muhammadar Rasūlullāh, wa iqāmis-salāh, wa ītā’iz-zakāh, wal-hajj, wa shaumi Ramadhān”

Artinya:
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Refleksi untuk Muslim Sibuk:

Jika Islam adalah bangunan, maka shalat adalah tiang penyangganya. Bagaimana mungkin bangunan tetap kokoh jika tiangnya dibiarkan roboh? Demikian pula keislaman kita—tanpa shalat, fondasi keimanan akan rapuh.

2. Shalat: Prioritas Utama Setelah Syahadat

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau memberikan instruksi yang sangat jelas tentang prioritas dakwah.

Hadits Riwayat:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى نَحْوِ أَهْلِ الْيَمَنِ، قَالَ لَهُ:
“إِنَّك تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ تَعَالَى، فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ…”

Transliterasi:
“Innaka taqdimu ‘alā qaumin min ahlil-kitāb, falyakun awwala mā tad’ūhum ilā an yuwaḥḥidullāha ta’ālā, fa idhā ‘arafū dzālik, fa akhbirhum annallāha faradha ‘alaihim khamsa shalawātin fī yaumihim wa lailatihim…”

Artinya:
“Sesungguhnya engkau akan datang kepada kaum Ahli Kitab. Maka hendaklah perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah. Jika mereka sudah memahami hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka lima shalat sehari semalam…” (HR. Bukhari & Muslim)

Baca Juga:  Panduan Haji untuk Lansia: 9 Pesan Kesehatan dari Prof Tjandra Agar Ibadah Lancar

Pelajaran Penting:

Perhatikan urutannya! Setelah tauhid, shalat adalah prioritas pertama yang harus diajarkan. Bukan zakat, bukan puasa, tapi shalat. Ini menunjukkan urgensi shalat dalam Islam.

3. Shalat: Wajib dalam Kondisi Apapun

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk menjaga shalat dalam segala situasi—saat sehat atau sakit, aman atau dalam bahaya, di rumah atau dalam perjalanan.

Firman Allah:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ﴿٢٣٨﴾ فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ ﴿٢٣٩﴾

Transliterasi:
“Ḥāfiẓū ‘alaṣ-ṣalawāti waṣ-ṣalātil-wusṭā, wa qūmū lillāhi qānitīn. Fa in khiftum farijālan au rukbānā, fa idhā amintum fażkurullāha kamā ‘allamakum mā lam takūnū ta’lamūn”

Artinya:
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 238-239)

Keringanan bagi yang Sakit:

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku menderita wasir, lalu aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat. Beliau bersabda:

“صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ”

Transliterasi:
“Shalli qā’imān, fa il lam tastaṭi’ fa qā’idān, fa il lam tastaṭi’ fa ‘alā janb”

Artinya:
“Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak mampu, maka sambil duduk. Jika tidak mampu, maka sambil berbaring.” (HR. Bukhari)

Aplikasi untuk Pekerja Sibuk:

Jika dalam kondisi perang dan sakit saja shalat tetap wajib, bagaimana dengan alasan “sibuk kerja”? Islam memberikan keringanan—shalat bisa dilakukan sambil duduk di kantor, di kendaraan, atau dalam kondisi apapun.

Tidak ada alasan untuk meninggalkannya!

4. Shalat: Pesan Terakhir Rasulullah

Sebelum wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat yang sangat menyentuh tentang shalat.
Hadits Riwayat:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ آخِرَ كَلامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“الصَّلاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ”

Transliterasi:
“Aṣ-ṣalāh, wa mā malakat aimānukum”

Artinya:
“Jagalah shalat dan (perlakukan dengan baik) apa yang dimiliki oleh tangan kanan kalian (budak/pekerja).” (HR. Ibnu Majah)

Renungan Mendalam:

Bayangkan! Di detik-detik terakhir kehidupan beliau, Rasulullah masih mengingat shalat. Ini adalah pesan perpisahan yang harus kita pegang erat. Jika Nabi begitu khawatir tentang shalat umatnya, seharusnya kita pun lebih khawatir meninggalkannya.

5. Shalat: Warisan Semua Nabi dan Rasul

Shalat bukan hanya syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi juga diajarkan kepada semua nabi dan rasul sebelumnya.
Firman Allah:

وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ

Transliterasi:
“Wa auḥainā ilaihim fi’lal-khairāti wa iqāmaṣ-ṣalāti wa ītā’az-zakāh”

Artinya:
“Dan Kami wahyukan kepada mereka (para nabi) untuk mengerjakan kebajikan, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.” (QS. Al-Anbiya: 73)

Makna Universal:

Shalat adalah ibadah yang menyatukan seluruh umat para nabi. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah kebutuhan spiritual universal manusia, bukan sekadar ritual temporer.

6. Shalat: Tiang Penyangga Agama

Inilah hadits yang sangat populer namun sering diabaikan maknanya.
Hadits Riwayat:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ”

Transliterasi:
“Ra’sul-amril-Islām, wa ‘amūduhuṣ-alāh, wa żirwatu sanāmihil-jihādu fī sabīlillāh”

Artinya:
“Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Analogi yang Kuat:

Bayangkan sebuah tenda. Tanpa tiang, tenda akan roboh dan tidak bisa berfungsi. Demikian pula Islam tanpa shalat—ia akan runtuh dan kehilangan esensinya.

Muslim yang meninggalkan shalat ibarat orang yang merobohkan tiang agamanya sendiri.

7. Shalat: Perisai dari Perbuatan Keji dan Mungkar

Di tengah gempuran godaan dosa di era modern, shalat adalah benteng perlindungan kita.
Firman Allah:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Transliterasi:
“Innaṣ-ṣalāta tanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkar”

Artinya:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Baca Juga:  Konsep Sedekah dalam Islam: Pengertian, Jenis, dan Keutamaannya

Relevansi Modern:

Di era di mana maksiat begitu mudah diakses—mulai dari korupsi, zina, narkoba, hingga konten-konten tidak bermoral—shalat adalah sistem pertahanan spiritual kita. Shalat yang khusyuk akan membentuk karakter yang takut kepada Allah dan malu berbuat dosa.

8. Shalat: Penghapus Dosa yang Luar Biasa

Ini adalah kabar gembira bagi kita yang sadar penuh dosa. Shalat adalah mekanisme pembersihan spiritual yang Allah sediakan.

a. Analogi Sungai yang Mengalir

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟” قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ. قَالَ: “فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا”

Transliterasi:
“Ara’aitum lau anna nahran bibābi aḥadikum yaghtasilu minhu kulla yaumin khamsa marrāt, hal yabqā min daranihi syai’? Qālū: Lā yabqā min daranihi syai’. Qāla: Fa dzālika matsaluṣ-ṣalawātil-khams, yamḥullāhu bihinnal-khaṭāyā”

Artinya:
“Bagaimana pendapat kalian jika ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari sungai itu lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran di tubuhnya?’ Mereka menjawab: ‘Tidak akan tersisa sedikitpun kotorannya.’ Beliau bersabda: ‘Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu. Dengan shalat itu, Allah menghapus dosa-dosa.'” (HR. Bukhari & Muslim)

b. Penghapus Dosa Antar Waktu

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ، مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ”

Transliterasi:
“Aṣ-ṣalawātul-khams, wal-jumu’atu ilal-jumu’ah, kaffāratul limā bainahunna, mā lam tughsyal-kabā’ir”

Artinya:
“Shalat lima waktu dan Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

c. Syarat-Syarat Penghapusan Dosa

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا، وَخُشُوعَهَا، وَرُكُوعَهَا، إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ تُؤْتَكَبِيرَةٌ، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ”

Transliterasi:
“Mā minimri’in muslimin taḥduruhu shalātun maktūbatun fayuḥsinu wuḍū’ahā, wa khushū’ahā, wa rukū’ahā, illā kānat kaffāratul limā qablahā minaż-żunūb mā lam tu’ta kabīrah, wa żālikad-dahru kulluh”

Artinya:
“Tidaklah seorang Muslim didatangi waktu shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudhu, khusyuk, dan rukunya, melainkan shalat itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama dosa besar tidak dilakukan. Dan ini berlaku sepanjang waktu.” (HR. Ahmad)

Pesan untuk Kita:

Bayangkan! Lima kali sehari kita diberi kesempatan untuk “mandi suci” dari dosa. Tapi syaratnya harus khusyuk dan berkualitas. Shalat terburu-buru karena “sibuk” tidak akan memberikan efek pembersihan yang maksimal.

9. Shalat: Tiket Bertetangga dengan Nabi di Surga

Ingin dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat? Perbanyak sujud!

Hadits Riwayat:
Dari Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي: سَلْ. فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ. قَالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ! قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ”

Transliterasi:
“Kuntu abītu ma’a Rasūlillāhi shallallahu ‘alaihi wa sallam, fa ataituhu biwuḍū’ihi wa ḥājatih, fa qāla lī: Sal. Fa qultu: As’aluka murāfaqataka fil-jannah. Qāla: Au ghairu dzālik? Qultu: Huwa dzāk! Qāla: Fa a’innī ‘alā nafsika bikatsratis-sujūd”

Artinya:
“Aku biasa bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku datang membawakan air wudhu dan kebutuhannya. Beliau bersabda kepadaku: ‘Mintalah!’ Aku berkata: ‘Aku meminta agar bisa menemanimu di surga.’ Beliau bertanya: ‘Atau yang lain?’ Aku jawab: ‘Itu saja!’ Beliau bersabda: ‘Maka bantulah aku (untuk mengabulkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud.'” (HR. Muslim)

Formula Sederhana:

Ingin dekat dengan Nabi? Perbanyak shalat! Ini adalah “formula rahasia” yang diajarkan langsung oleh Rasulullah. Di tengah kesibukan, justru kita harus mencari-cari kesempatan untuk sujud lebih banyak.

Baca Juga:  Batal Haji Karena Berdebat Saat Ihram? Ini Penjelasan Fiqih dan 3 Opsi Fidyah

PERINGATAN KERAS: Bahaya Meninggalkan Shalat

Setelah mengetahui keutamaan shalat yang luar biasa, mari kita renungkan peringatan-peringatan keras tentang bahaya meninggalkan shalat.

1. Penghuni Neraka adalah Mereka yang Tidak Shalat

Firman Allah:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ﴿٤٢﴾ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ﴿٤٣﴾

Transliterasi:
“Mā salakakum fī saqar? Qālū lam naku minaṣ-muṣallīn”

Artinya:
“Apa yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.'” (QS. Al-Muddatstsir: 42-43)

2. Generasi yang Celaka

Firman Allah:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Transliterasi:
“Fa khalafa min ba’dihim khalfun aḍā’ūṣ-ṣalāta wattaba’usy-syahawāti fa saufa yalqauna ghayyā”

Artinya:
“Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

3. Batas antara Iman dan Kufur

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاةِ”

Transliterasi:
“Inna bainar-rajuli wa bainasy-syirki wal-kufri tarkuṣ-ṣalāh”
Artinya:
“Sesungguhnya (batas) antara seorang laki-laki dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

4. Siksa bagi yang Tidur dari Shalat

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits tentang mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda tentang orang yang dihukum:

“أَمَّا الَّذِي يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ، فَإِنَّهُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ، وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاةِ الْمَكْتُوبَةِ”

Transliterasi:
“Ammallażī yutsلاغu ra’suhu bil-ḥajar, fa innahu ya’khuzul-Qur’āna fa yarfuḍuh, wa yanāmu ‘aniṣ-ṣalātil-maktūbah”

Artinya:
“Adapun orang yang dihempaskan kepalanya dengan batu, maka ia adalah orang yang mengambil Al-Qur’an lalu meninggalkannya, dan tidur dari shalat wajib.” (HR. Bukhari)

Solusi Praktis untuk Muslim Sibuk

Saudaraku, kesibukan bukanlah alasan yang bisa diterima di hadapan Allah. Berikut tips praktis untuk tetap menjaga shalat di tengah padatnya aktivitas:

1. Jadwalkan Shalat sebagai Prioritas

Jangan menjadwalkan shalat di sela-sela kesibukan, tapi jadwalkan kesibukan di sekitar waktu shalat. Ini adalah masalah prioritas.

2. Manfaatkan Teknologi

Gunakan aplikasi pengingat shalat di smartphone. Set alarm 10 menit sebelum waktu shalat tiba untuk bersiap-siap.

3. Shalat di Awal Waktu

Usahakan shalat di awal waktu. Ini akan memberikan keberkahan waktu dan ketenangan sepanjang hari.

4. Bawa Perlengkapan Shalat

Selalu bawa sajadah portable dan mukena/sarung di tas atau kendaraan. Jangan sampai ketiadaan fasilitas menjadi penghalang.

5. Koordinasi dengan Rekan Kerja

Jika memungkinkan, koordinasikan dengan atasan atau rekan kerja untuk memiliki waktu shalat yang fleksibel. Perusahaan yang baik akan menghargai kebutuhan spiritual karyawannya.

6. Qadha Segera jika Terlewat

Jika benar-benar terlewat karena alasan yang syar’i, segera qadha shalat begitu ada kesempatan. Jangan ditunda-tunda.

7. Perbaiki Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas

Shalat 5 menit tapi khusyuk lebih baik daripada 10 menit tapi pikiran melayang ke mana-mana. Fokus pada kualitas

Penutup: Saatnya Bertindak!

Saudaraku Muslim yang dirahmati Allah,

Kesibukan dunia memang nyata. Deadline memang menekan. Target kerja memang menantang. Tapi ingatlah: tidak ada kesibukan yang lebih penting daripada memenuhi panggilan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat jauh lebih sibuk dari kita. Mereka berperang, mengurus negara, berdakwah, tapi shalat tidak pernah mereka tinggalkan. Bahkan di medan perang, dalam kondisi terluka, shalat tetap ditegakkan.

Mulai hari ini, mari kita berkomitmen:

  • Tidak ada lagi alasan “sibuk” untuk meninggalkan shalat
  • Shalat adalah prioritas utama, bukan sekadar pelengkap
  • Kita akan menjaga shalat dengan kualitas terbaik

Ingatlah pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah merobohkan agama.”

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa menjaga shalat. Jadikan shalat sebagai penyejuk hati kami, penghapus dosa kami, dan jalan menuju surga-Mu. Aamiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Redaksi SisiIslam.com

QS: An-Nisa (4) : 136

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا

Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.

----------
Al-Qur'an lengkap