
Makna Al-Ihtiram dan At-Tauqir: Hormat vs Penghormatan dalam Islam yang Perlu Diketahui
Apa beda ihtiram dan tauqir? Pelajari makna hormat & penghormatan menurut bahasa dan istilah Islam. Simak penjalasannya secara lengkap di halaman ini!
Pernahkah Anda merasa segan kepada guru, orang tua, atau ulama? Atau mungkin Anda hanya bersikap sopan karena tahu itu adab? Dalam Islam, ada dua istilah yang sering dianggap sama, padahal maknanya berbeda jauh: Al-Ihtiram dan At-Tauqir.
Keduanya sama-sama bicara tentang penghormatan. Namun, satu bersifat umum, satu lagi spesifik dan mendalam. Mari kita bedah tuntas makna keduanya berdasarkan bahasa dan istilah para ulama.
1. Al-Ihtiram (الاحترام): Hormat yang Lahir dari Hati dan Perilaku
Secara Bahasa
Kata al-ihtiram berasal dari akar kata al-hurmah (الحرمة), yang berarti keagungan, kemuliaan, atau rasa segan yang membuat seseorang takut untuk melanggar batas. Dalam bahasa Arab, ketika dikatakan ah taramahu, artinya: ia memuliakannya, mengagungkannya, dan memperlakukannya dengan baik karena rasa cinta sekaligus rasa segan.
Secara Istilah
Para ulama mendefinisikan ihtiram sebagai:
Pengagungan, rasa segan (malu untuk berbuat salah), menjaga kehormatan, dan bermuamalah dengan cara yang baik.
Artinya, ihtiram adalah bentuk penghormatan yang lahir dari kombinasi cinta dan takut (khasyyah). Inilah yang membedakannya sekadar basa-basi. Ketika seorang Muslim menghormati orang lain dengan ihtiram, ia akan:
- Menjaga lisan dari perkataan kasar
- Tidak meremehkan usia, jabatan, atau ilmu orang lain
- Bertutur kata lembut dan penuh tawaduk
2. At-Tauqir (التوقير): Penghormatan yang Membawa Ketenangan
Secara Bahasa
At-tauqir berarti at-ta’zhim (pengagungan) dan at-tabjil (pemuliaan yang disertai pengakuan atas kedudukan seseorang).
Secara Istilah (Ibn Taimiyah)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan definisi yang sangat indah:
“At-Tauqir adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang mengandung ketenangan (sakinah) dan ketenteraman (thuma’ninah), baik berupa pengagungan, pemuliaan, atau perlakukan istimewa yang menjaga seseorang dari segala hal yang dapat mengeluarkannya dari batas-batas kewibawaan (wakar).”
Wow. Ini luar biasa. Tauqir tidak hanya soal “sopan” atau “takut”. Lebih dari itu, tauqir adalah kondisi hati yang tenang saat berhadapan dengan orang yang dihormati, tanpa merasa tertekan, dan tetap menjaga martabat orang tersebut secara utuh.
Contoh konkretnya:
| Ihtiram (Hormat) | Tauqir (Penghormatan penuh) |
|---|---|
| Mengucap salam pada guru | Diam dan merendahkan suara saat guru bicara |
| Mencium tangan orang tua | Tidak memotong pembicaraan orang tua |
| Menghormati ulama | Menerima nasihatnya tanpa berdebat, meski berbeda pendapat |
Mengapa Islam Membedakan Keduanya?
Karena akhlak dalam Islam tidak hanya soal “tidak salah”, tapi juga soal kedalaman makna. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang, masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar). Allah tidak malu (menerangkan) yang benar…” (QS. Al-Ahzab: 53)
Ayat ini mengajarkan tauqir kepada Nabi ﷺ, bukan sekadar ihtiram. Para sahabat tidak hanya hormat, mereka sangat menjaga perasaan dan waktu beliau.
3 Hikmah Luar Biasa dari Ihtiram dan Tauqir
1. Menumbuhkan Sakinah dalam Hubungan
Ketika kita membiasakan tauqir pada orang tua, guru, atau pemimpin yang adil, hati kita menjadi lebih tenang. Tidak ada lagi rasa dengki atau ingin menjatuhkan.
2. Melatih Keikhlasan
Ihtiram kadang bisa dilakukan karena paksaan sosial. Tapi tauqir hanya lahir dari keikhlasan dan pengakuan tulus atas keutamaan seseorang.
3. Menjaga Muka Muslimin
Islam sangat menjaga martabat. Dengan tauqir, kita tidak akan mudah menyakiti perasaan saudara Muslim, apalagi menghinanya di depan umum.
Kesimpulan: Jangan Cukup Hormat, Tunduklah dengan Tawaduk
Ihtiram adalah pintu masuk adab. Tapi tauqir adalah puncaknya. Seorang Muslim sejati tidak hanya hormat karena takut salah, tapi juga menghormati karena sadar betapa mulianya orang lain di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati orang tua kami, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR. Ahmad, hasan)
Mari kita tingkatkan adab kita. Dari sekadar ihtiram yang kadang dangkal, menuju tauqir yang membawa berkah dan ketenangan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis: Sodikin Masrukin
Editor: Redaksi Sisi Islam Media
QS: Al-Ma'idah (5) : 101
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَسْـَٔلُوْا عَنْ اَشْيَاۤءَ اِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ ۚوَاِنْ تَسْـَٔلُوْا عَنْهَا حِيْنَ يُنَزَّلُ الْقُرْاٰنُ تُبْدَ لَكُمْ ۗعَفَا اللّٰهُ عَنْهَا ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌWahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (justru) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakannya ketika Al-Qur'an sedang diturunkan, (niscaya) akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.
----------Al-Qur'an lengkap







