Kalender Hijriah Global: Menyatukan Umat atau Terjebak Realitas Politik?

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia kembali dihadapkan pada pertanyaan klasik yang tak kunjung usai: kapan tepatnya 1 Ramadhan, kapan Idul Fitri, dan kapan Idul Adha? Tak jarang, perbedaan penetapan tanggal terjadi antar negara, bahkan hingga di dalam satu negara sekalipun. Fenomena ini kerap dianggap lumrah. Namun, di era yang serba terhubung seperti sekarang, muncul pertanyaan mendasar: sampai kapan umat Islam yang jumlahnya lebih dari 2 miliar jiwa ini hidup tanpa satu sistem waktu yang menyatukan mereka?

Di sinilah gagasan tentang Kalender Hijriah Global menjadi sangat relevan. Lebih dari sekadar alat penentu ibadah, kalender adalah fondasi peradaban yang mengatur ritme sosial, ekonomi, hingga hubungan internasional. Bayangkan jika hari raya umat Islam di dua negara bertetangga jatuh pada hari yang berbeda. Ini bukan sekadar masalah simbolik, melainkan menyangkut koordinasi dan persatuan umat secara global.

Kemajuan Ilmu vs Otoritas yang Terpecah

Secara ilmiah, pembuatan kalender hijriah global sebenarnya sangat mungkin. Berkat kemajuan astronomi modern, posisi bulan dapat dihitung dengan presisi tinggi. Bahkan, upaya ke arah sana sudah pernah dilakukan. Konferensi internasional di Istanbul pada 2016 yang diprakarsai oleh Diyanet Turkiye, misalnya, berhasil merumuskan konsep kalender global berbasis hisab (perhitungan astronomi) dengan prinsip “satu hari, satu dunia.” Organisasi seperti Muhammadiyah di Indonesia pun turut mendukung gagasan ini.

Baca Juga:  Pentingnya Akhlak Sebelum Ilmu: Nasihat Berharga dari Imam Al-Ghazali

Lantas, apa hambatan utamanya? Bukan pada sains, melainkan pada otoritas.

Dalam tradisi Islam, penentuan awal bulan bukan hanya urusan teknis, tetapi juga menyangkut otoritas keagamaan dan politik. Bagi banyak negara, hak menetapkan hari raya adalah simbol kedaulatan yang tidak mudah diserahkan kepada sistem global. Hingga saat ini, tidak ada satu otoritas keagamaan tunggal yang diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Akibatnya, setiap langkah menuju penyatuan kalender kerap terbentur pada dua hal besar: kepentingan nasional dan perbedaan mazhab.

Perbedaan Fikih yang Tak Kunjung Usai

Selain faktor politik, masalah ini juga bersinggungan dengan perbedaan pemahaman fikih yang sudah berlangsung sejak lama.

  • Ada ulama yang berpegang teguh pada rukyat (pengamatan hilal secara langsung).
  • Ada pula yang menerima hisab (perhitungan astronomi) sebagai metode yang sah.

Perbedaan ini diperumit oleh pandangan apakah rukyat lokal berlaku untuk seluruh dunia atau hanya untuk wilayah tertentu. Di era globalisasi, pendekatan lokal justru sering menghasilkan ketidaksinkronan yang sulit dijustifikasi secara praktis. Namun di sisi lain, kalender global berbasis hisab kerap dianggap terlalu “rasional” dan meninggalkan praktik tradisional yang sudah mengakar.

Jalan Tengah yang Realistis

Lalu, apakah kalender hijriah global adalah sebuah kemustahilan? Tentu tidak. Namun, mewujudkannya tidak bisa instan. Dibutuhkan pendekatan bertahap yang lebih realistis:

  1. Kesepakatan di Tingkat Regional
    Langkah awal yang paling mungkin adalah membangun kesepakatan di kawasan. Contohnya, negara-negara Asia Tenggara dapat menyatukan kriteria hisab dan rukyat mereka. Pendekatan ini lebih mudah daripada memaksakan penyatuan secara global sekaligus.
  2. Menyatukan Standar Kriteria Astronomi
    Perbedaan tidak harus dihapus sepenuhnya, tetapi bisa dipersempit dengan parameter yang disepakati bersama. Hal ini membutuhkan peran aktif para ahli astronomi dan ulama dari berbagai negara.
  3. Membangun Kepercayaan Antarnegara
    Tanpa ada rasa saling percaya (trust), kesepakatan global mustahil tercapai. Ini adalah fondasi utama yang harus dibangun secara perlahan.
Baca Juga:  Panduan Nabi Muhammad SAW untuk Kesehatan Mental: 4 Prinsip Holistik dari Islam

Tantangan Politik Perbentengan Mazhab

Salah satu tantangan terbesar adalah adanya konsensus tidak tertulis bahwa kawasan tertentu menjadi “benteng” bagi mazhab tertentu. Asia Tenggara dikenal dengan mazhab Syafi’i-Asy’ari, sementara negara-negara Teluk identik dengan mazhab Atsari-Salafi, dan Turki-Asia Tengah dengan mazhab Hanafi-Maturidi.

Politik perbentengan mazhab ini seringkali berkelindan erat dengan rezim politik yang berkuasa. Akibatnya, gagasan besar tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa diterapkan secara menyeluruh.

Lebih dari Sekadar Simbol

Sebagian orang mungkin menganggap perbedaan hari raya adalah hal sepele. “Yang penting kan ibadahnya,” begitu kata mereka. Namun, di tengah masyarakat, simbol memiliki makna yang besar. Idul Fitri dan Idul Adha bukan hanya ibadah individu, tetapi juga perayaan kolektif umat. Ketika umat merayakannya di hari yang berbeda, ada pesan simbolik bahwa kesatuan itu belum sepenuhnya terwujud.

Oleh karena itu, kalender hijriah global sejatinya bukan hanya persoalan tanggal. Ia adalah cerminan bagaimana umat Islam memandang dirinya sebagai satu kesatuan. Ia adalah proyek peradaban yang harus diselesaikan di tingkat tertinggi—melibatkan para ulama, ahli astronomi, hingga kepala negara dan pemerintahan di negara-negara Islam.

Antara Idealisme dan Keberanian

Pada akhirnya, persoalan kalender hijriah global bukan tentang apakah ia mungkin atau tidak. Ia adalah soal keberanian:

  • Keberanian untuk melampaui ego mazhab dan ego politik.
  • Keberanian untuk berbagi otoritas.
  • Keberanian untuk membayangkan umat Islam sebagai satu kesatuan global, bukan sekadar kumpulan negara dan kelompok yang terpisah.
Baca Juga:  Mengenal Tuhan Melalui Alam: Bukti Kekuasaan Sang Pencipta

Selama masing-masing pihak masih lebih nyaman dengan otoritasnya sendiri, kalender hijriah global akan tetap menjadi wacana. Bukan karena ia mustahil diwujudkan, tetapi karena mungkin kita belum benar-benar menginginkannya secara kolektif.

Wallahu a’lam.

QS: An-Nahl (16) : 86

وَاِذَا رَاَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا شُرَكَاۤءَهُمْ قَالُوْا رَبَّنَا هٰٓؤُلَاۤءِ شُرَكَاۤؤُنَا الَّذِيْنَ كُنَّا نَدْعُوْا مِنْ دُوْنِكَۚ فَاَلْقَوْا اِلَيْهِمُ الْقَوْلَ اِنَّكُمْ لَكٰذِبُوْنَۚ

Dan apabila orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain Engkau.” Lalu sekutu mereka menyatakan kepada mereka, “Kamu benar-benar pendusta.”

----------
Al-Qur'an lengkap